Harga Batu Bara Turun Terus, Nasib Sahamnya Piye?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
18 February 2021 11:10
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal terus terpangkas dalam enam hari perdagangan terakhir. Harga si batu legam kini sudah berada di bawah level US$ 80/ton. 

Untuk kontrak futures (berjangka) batu bara termal ICE Newcastle yang aktif ditransaksikan di pasar harganya drop signifikan kemarin, Rabu (18/2/2021). Harga batu bara anjlok 3,65% dalam sehari. Kini komoditas energi primer tersebut dibanderol di US$ 79,25/ton.


Semakin rendahnya harga batu bara dipicu oleh beberapa faktor, terutama karena China. Harga batu bara termal acuan China yaitu Qinhuangdao terus melorot walaupun masih tetap lebih tinggi dari batas atas harga yang dipatok oleh regulator di RMB 500 - RMB 570 per ton. 

Selisih harga (spread) antara batu bara termal Australia dan China kini sudah semakin menyempit. Jelang berakhirnya musim dingin di Negeri Panda serta selesainya perayaan tahun baru Imlek juga membuat harga batu bara cenderung berbalik arah dari tren bullish-nya.

Meskipun begitu harga batu bara untuk tahun 2021 diproyeksi bakal lebih baik dari tahun lalu. Program vaksinasi Covid-19 secara masal di banyak negara walau masih berjalan lambat dan tak seragam telah menumbuhkan optimisme bahwa ekonomi bakal pulih secara gradual di kalangan pelaku pasar. 

Kebijakan makro yang akomodatif masih akan dilanjutkan oleh pemerintah. Fokus pada aspek demand creation dan memastikan bahwa likuiditas di sistem keuangan mencukupi membuat berbagai harga aset terkerek naik. Salah satunya komoditas dan tak terkecuali batu bara. 

Di sektor riil harga batu bara yang naik juga disebabkan oleh berangsur membaiknya aktivitas ekonomi seperti di sektor manufaktur. Harga gas alam cair (LNG) yang tinggi serta tren bullish harga minyak mentah turut menopang penguatan harga si batu hitam.

Hubungan Australia dan China yang retak cenderung menguntungkan bagi sektor batu bara Indonesia. China mengalihkan impor batu baranya ke Tanah Air. 

Impor batu bara China melonjak menjadi 39,08 juta ton pada Desember 2020 dari 2,77 juta ton tahun sebelumnya karena Beijing melonggarkan pembatasan impor untuk mengurangi kendala pasokan di dalam negeri di tengah musim dingin yang ekstrem serta adanya peningkatan aktivitas ekonomi.

Lebih lanjut Fitch Ratings melaporkan impor batu bara China tahun 2020 naik 1,4% (yoy) menjadi 304 juta ton dibanding tahun sebelumnya. Ini merupakan impor tertinggi sejak 2014. Total pembangkit listrik termal naik 6,6% dan 9,2% (yoy) masing-masing pada November dan Desember 2020.

Produksi batu bara China turun 0,1% yoy pada tahun 2020. Produksi di Mongolia Dalam, provinsi penghasil batu bara terbesar di negara itu pada tahun 2019, turun sebesar 3% (yoy) pada tahun 2020 meskipun ada pembalikan kebijakan pemerintah pada bulan Oktober untuk meningkatkan produksi menjelang musim dingin.

Penambang batu bara Indonesia menjadi pihak yang diuntungkan atas impor China yang kuat. Indeks harga batu bara Indonesia 4.200 kcal/kg naik menjadi US$ 45/ ton pada Januari 2021 dari rata-rata US$ 26/ton dalam tujuh bulan hingga November 2020.

Lonjakan tersebut kemungkinan hanya akan berlangsung singkat, meskipun Fitch mengharapkan harga rata-rata 2021 sebesar itu. lebih tinggi dari tahun 2020 sebesar US$ 32,5/ ton.

Fitch juga mengharapkan sebagian besar produsen batu bara Indonesia meningkatkan produksi pada kuartal pertama 2021 sebagai tanggapan atas permintaan dan harga yang lebih baik.

Kenaikan harga batu bara juga ikut mengerek naik harga saham-saham emiten tambang batu bara Tanah Air. Bahkan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang sudah sekian lama berada di level gocap alias Rp 50/lembar pun ikut bangkit. Saham BUMI tak lagi datar. 

Saham emiten tambang batu bara lain yang juga menguat dengan signifikan adalah saham PT Harum Energy Tbk (HRUM). Saham HRUM terkena double positive sentiment. Pertama adalah kenaikan harga batu bara dan kedua adalah atas akuisisi tambang nikel di tengah kenaikan harga nikel global menyusul tren mobil listrik yang meningkat.

Namun saat harga batu bara mulai meredup, harga saham sektor batu bara Tanah Air juga ikut terkoreksi. Untuk saat ini harga saham emiten batu bara yang rajin memberikan dividen tinggi seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sedang berada di fase konsolidasi.

Sejak akhir Januari sampai saat ini harga saham ADRO bergerak di rentang Rp 1.150 - Rp 1.250 per lembar. Untuk saham ITMG berada di range Rp 11.550 - Rp 12.275 per lembar dan untuk PTBA berada di kisaran Rp 2.400 - Rp 2.600 per lembar

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading