Newsletter

Hantu di Pasar Saham Kini Bukan Lagi Resesi, Tapi Obligasi!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
23 February 2021 06:13
Layar pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) Foto: Layar pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Kinerja bursa saham AS yang kurang ciamik dini hari tadi tentu saja bukan kabar baik bagi bursa saham Asia yang akan buka pagi ini. Namun apa yang diungkapan oleh Lerner ada benarnya. 

Pemerintah AS masih terus berupaya untuk menggelontorkan stimulus fiskal bernilai jumbo. Kombinasi Joe Biden dan Janet Yellen dinilai mampu untuk membawa perekonomian terbesar di dunia tersebut pada pemulihan dengan ditopang oleh bantuan fiskal senilai US$ 1,9 triliun.

Dari sisi moneter, bos The Fed yakni Jerome Powell juga berulang kali menegaskan bahwa pengetatan moneter adalah hal yang prematur untuk dilakukan saat ini. Tapering belum akan dilakukan dan suku bunga tak akan dinaikkan setidaknya untuk kurun waktu dua tahun ke depan. 


Era suku bunga rendah dan likuiditas yang berlimpah memang saat yang tepat untuk berinvestasi ke aset-aset berisiko seperti saham. Hal inilah yang membuat harga saham-saham di berbagai negara tak terkecuali Indonesia berangsur-angsur pulih. Bahkan ada yang tembus rekor all time high seperti di AS.

Adanya pandemi Covid-19 membuat investor berburu saham-saham yang resilien dan memberikan prospek yang cerah. Salah satunya adalah saham-saham di sektor teknologi. 

Tren berinvestasi di sektor teknologi juga sudah menular ke Tanah Air. Semakin hits-nya praktik bank digital di dalam negeri membuat saham-saham bank mini melesat.

Banyak dari bank-bank BUKU I dan II yang belum memenuhi ketentuan permodalan yang ditetapkan OJK menjadi incaran korporasi, perbankan lain bahkan sampai start up.

Tren digital banking yang digadang-gadang jadi solusi untuk inklusi keuangan Indonesia membuat gairah investor meningkat. Saham-saham yang bakal dijadikan bank digital tanpa cabang tak luput menjadi serbuan investor tak terkecuali investor ritel yang semakin agresif di Tanah Air. 

Saham-saham bank kecil seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI), PT Bank Bumi Artha Tbk (BNBA), PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) dan PT Bank Net Syariah Indonesia Tbk (BANK) cenderung mengalami kenaikan nilai kapitalisasi pasar yang signifikan setelah rilis resmi maupun rumor bahwa bank tersebut akan disulap jadi bank digital beredar. 

Tren bullish saham di berbagai negara juga membuat para founder start up teknologi di Indonesia semakin agresif untuk melantai di bursa saham. Tren penggunaan perusahaan cek kosong (blank check company) yang dikenal dengan sebutan Special Purpose Acquisition Company (SPAC) juga semakin marak. 

Jumlah SPAC terus bertambah. Di Tanah Air emiten milik Sandiaga Uno yakni PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) lewat anak perusahaannya yaitu PT Nugraha Eka Kencana bahkan sudah menjadi salah satu anchor investor SPAC milik mitra investasinya yaitu Provident Group.

Konon kabarnya salah satu start up unicorn yang sudah ngebet untuk melantai di bursa saham adalah Traveloka. Beredar isu bahwa Traveloka sedang menjajaki kerja sama dengan dua SPAC yaitu COVA dan PAQU (Provident) untuk melantaikannya di bursa Nasdaq.

Adanya sentimen commodity supercycle serta perkembangan mobil listrik yang semakin agresif juga membuat harga nikel sebagai komponen utama penyusun baterainya terus menguat. Kenaikan harga nikel juga turut menjadi sentimen positif untuk emiten sektor tambang yang punya portofolio nikel.

Selain soal bank digital, SPAC dan nikel, investor juga perlu mencermati pergerakan harga saham-saham emiten batu bara Tanah Air. Pasalnya pemerintah baru saja menggelontorkan insentif fiskal berupa royalti nol persen untuk batu bara yang digunakan dalam proyek hilirisasi bernilai tambah ekonomi.

Simak Data dan Agenda Berikut
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading