Newsletter

Minim Sentimen dari Global, Bagaimana Gerak Pasar Hari Ini?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
16 February 2021 06:05
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia mayoritas bergerak menguat, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah masih sama-sama menguat pada perdagangan Senin (15/2/2021). Sementara untuk obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) bergerak sebaliknya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,77% di level 6.270,32 pada perdagangan Senin (15/2/2021).


Data perdagangan mencatat, nilai transaksi pada perdagangan kemarin mencapai Rp 12,2 triliun dan terpantau investor asing menjual bersih Rp 573 miliar di pasar reguler. Tercatat 299 saham naik, 182 turun, dan sisanya 160 stagnan.

Asing melakukan jual bersih (net sell) di saham PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp 530 miliar dan di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 173 miliar.

Sementara itu, pembelian bersih oleh investor asing (net buy) dilakukan di saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 134 miliar dan di saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp 37 miliar.

Pada perdagangan kemarin, bursa saham Asia cenderung sepi karena untuk bursa saham China (Shanghai Composite) dan bursa saham Hong Kong (Hang Seng) belum dibuka karena masih libur tahun baru Cina (Imlek).

Namun, di kala pasar saham Asia yang masih sepi, indeks Nikkei Jepang menjadi yang paling tinggi penguatannya dibandingkan dengan bursa saham Asia lainnya. Sementara itu, hanya indeks saham Filipina saja yang melemah pada perdagangan kemarin.

Sementara itu, nilai tukar rupiah mampu mempertahankan penguatan melawan dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang perdagangan Senin (15/2/2021), bahkan sempat menembus level Rp 13.800-an/US$.

Dolar AS yang sedang lesu, masih tutupnya pasar keuangan di beberapa negara di Asia, serta data ekonomi dari dalam negeri yang cukup bagus membuat rupiah perkasa pada hari ini.

Melansir data dari Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,14% ke Rp 13.950/US$. Rupiah tidak sempat masuk ke zona merah, malahan penguatan semakin terakselerasi hingga 0,57% ke Rp 13.890/US$. Level tersebut merupakan yang terkuat sejak 7 Januari lalu.

Penguatan rupiah sedikit mengendur, dan mengakhiri perdagangan di level Rp 13.910/US$, menguat 0,43% di pasar spot.

Berkat penguatan tersebut, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia. Mayoritas mata uang utama menguat hari ini, hingga pukul 15:09 WIB, hanya yen Jepang dan rupee India yang mengalami pelemahan.

Namun, untuk obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) pada perdagangan kemarin, pergerakannya cenderung melemah ditandai dengan harga SBN yang mayoritas melemah dan imbal hasilnya () yang menguat.

Hanya SBN berkode FR0061 dengan tenor 1 tahun yang harganya menguat dan yield-nya turun, yakni turun 6,4 basis poin ke level 4,023%.

Sedangkan untuk yield SBN seri FR0087 berjatuh tempo 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara naik 0,5 bp ke level 6,25%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Sentimen yang mendorong pergerakan IHSG dan rupiah serta menghambat laju pergerakan harga SBN adalah sentimen positif dari perilisan data neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2021 yang kembali mencatatkan surplus.

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis data neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2021. Kepala BPS Suhariyanto melaporkan nilai impor bulan lalu adalah US$ 13,34 miliar. Turun 6,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).

Adapun nilai ekspor per Januari 2021 sebesar US$ 15,3 miliar atau naik 12,24%. Sehingga, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus US$ 1,96 miliar. Surplus neraca perdagangan sudah terjadi selama sembilan bulan beruntun.

"Terjadi penurunan impor migas 21,9% YoY dan barang non-migas sebesar 4% YoY. Ekspor naik bagus, impor masih kontraksi 6,49% YoY," kata Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto.

Wall Street Libur, Sentimen Cenderung Sepi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading