Newsletter

Neraca Dagang RI Diramal Surplus, Bagaimana Pasar Hari Ini?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
15 February 2021 06:03
Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan lalu, pasar keuangan Indonesia bergerak bervariasi, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sama-sama menguat sepanjang pekan lalu. Sementara untuk obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) bergerak sebaliknya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu melesat 1,15% atau 70,8 poin dari posisi akhir pekan sebelumnya ke 6.222,521 pada penutupan Kamis (11/1/2021). Bursa libur pada Jumat untuk memperingati hari raya Tahun baru China (Imlek).

Nilai perdagangan selama sepekan tercatat sebesar Rp 72,1 triliun, dengan 75,2 miliar saham berpindah tangan sebanyak 6,6 juta kali. Investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 573,8 miliar.


Hanya satu dari empat hari perdagangan pekan lalu yang diwarnai dengan koreksi bursa, yakni pada Selasa (9/2/2021), sebesar 0,44% atau 27,2 poin. Koreksi tersebut tidak cukup menggerogoti reli Senin yang mencapai 57,1 poin.

Sementara itu, pergerakan rupiah pada pekan lalu terhitung prima dengan langsung masuk level psikologis 13.000 dan konsisten menguat dalam empat hari perdagangan. Libur hari raya Tahun baru China (Imlek) juga menjadi penolong rupiah karena indeks dolar AS tercatat menguat pada Jumat (12/2/2021) kemarin.

Pada Kamis, Mata Uang Garuda bertengger di level 13.970 per dolar AS, atau menguat tipis 0,07% secara harian. Secara mingguan, rupiah juga terapresiasi, yakni sebesar 0,36% dibandingkan dengan posisi akhir pekan sebelumnya pada Rp 14.020 per dolar AS.

Namun, untuk obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) pada pekan lalu tertekan, sebagaimana terlihat dari penguatan imbal hasilnya (yield) yang mengindikasikan investor cenderung meninggalkan aset aman (safe haven), di tengah ekspektasi pemulihan ekonomi berkat vaksinasi.

Optimisme pelaku pasar akan outlook ekonomi Indonesia memicu aksi jual aset minim risiko itu pada Kamis (11/2/2021), sebagaimana terlihat dari penguatan imbal hasil (yield) SBN bertenor 10 tahun yang menjadi acuan (benchmark) di pasar.

Yield obligasi berkode FR0087 tersebut pada Kamis bertambah 0,5 basis poin (bp) ke level 6,241%. Secara mingguan, posisi yield tersebut juga naik, yakni sebesar 7,6 bp, dibandingkan Jumat pekan lalu yang sebesar 6,165%, alias harganya melemah.

Imbal hasil bergerak berkebalikan dari harga obligasi, sehingga kenaikan imbal hasil mengindikasikan koreksi harga dan sebaliknya. Perhitungan imbal hasil dilakukan dalam basis poin yang setara dengan 1/100 dari 1%.

Secara umum, seluruh SBN berbagai tenor masih mencatatkan pelemahan harga secara mingguan. Penguatan yield yang terbesar menimpa obligasi pemerintah tenor 10 tahun. Sebaliknya, koreksi imbal hasil terjadi pada SBN tenor 3 dan 25 tahun.

Yield obligasi tenor pendek yakni 3 tahun melemah 2,9 bp ke 4,632% sementara yield obligasi tenor 25 tahun (seri FR0067) melemah sangat tipis, yakni 0,1 basis poin. Dengan kata lain, penguatan harga keduanya cenderung tipis.

Stimulus Makin Dekat, Wall Street Bergairah Pekan Lalu
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading