Analisis Teknikal

Joe Biden "Kalah" dari PPKM, Awas Koreksi IHSG Bisa Berlanjut

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 January 2021 08:10
Lady Gaga menyanyikan lagu kebangsaan Amerika Serikat pada pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS ke-46 di Gedung Capitol, Washington DC, Rabu (20/1/2021). (AP/Andrew Harnik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah 0,25% ke 6413,892. Data perdagangan mencatat investor asing melakukan aksi jual bersih Rp 250,23 miliar di pasar reguler, dengan nilai transaksi mencapai Rp 18,62 triliun.

Penurunan IHSG terjadi akibat aksi ambil untung (profit taking) mengingat di awal perdagangan sempat melesat 1,17% ke 6.504,992.

Untuk pertama kalinya sejak April 2019 IHSG kembali menyentuh level 6.500. Dari level tersebut, IHSG juga berjarak kurang dari 3% menuju rekor tertinggi sepanjang masa 6.693,466 yang dicapai pada 20 Februari 2018.


Mayoritas bursa utama Asia juga menguat pada perdagangan Kamis kemarin yang memperkuat indikasi profit taking yang menimpa IHSG.

Pelantikan Joseph 'Joe' Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke-46. Amerika Serikat merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia, sehingga bagaimana arah kebijakan sang presiden akan memberikan dampak besar ke pasar finansial global.

Meski demikian, euforia Joe Biden mulai meredup yang terlihat dari pergerakan bursa saham AS (Wall Street) yang bervariasi, meski indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Selain itu, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali kembali diperpanjang 2 pekan hingga 8 Februari mendatang.

Keputusan perpanjangan PPKM tersebut itu disampaikan oleh Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (21/1/2021).

Diperpanjangnya PPKM tentunya dapat menghambat laju pemulihan ekonomi Indonesia yang berdampak negatif ke pasar.

Secara teknikal, IHSG berhasil mencapai target penguatan 6.500 kemarin, tetapi sayangnya berbalik melemah meski masih mampu bertahan di atas ke atas 6.400. Pergerakan tersebut menunjukkan level psikologis 6.500 menjadi resisten yang kuat, dan perlu mengakhiri perdagangan di atasnya untuk menguat lebih jauh.

Apalagi Selasa dan Rabu pekan lalu IHSG membentuk pola Doji. Suatu harga dikatakan membentuk pola Doji ketika level pembukaan dan penutupan perdagangan sama atau nyaris sama persis.

Secara psikologis, pola Doji menunjukkan pelaku pasar masih ragu-ragu menentukan arah pasar apakah akan menguat atau melemah.

IHSG bergerak di atas rerata pergerakan 50 hari (moving average/MA 50), 100 hari (MA 100), dan 200 hari (MA 200), yang menjadi modal untuk kembali menguat dalam jangka panjang.

Indikator stochastic pada grafik harian kini sudah memasuki wilayah jenuh jenuh beli (overbought).

jkseGrafik: IHSG Harian
Foto: Refinitiv

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Sementara itu pada grafik 1 jam, stochastic bergerak turun menjauhi wilayah overbought.

jkseGrafik: IHSG 1 Jam
Foto: Refinitiv

Belum ada perubahan level-level yang harus diperhatikan dibandingkan kemarin. Resisten terdekat berada di kisaran 6.470 yang dekat dengan level tertinggi tahun ini.

Kemampuan menembus level tersebut akan membawa IHSG menguat ke level psikologis 6.500.

Momentum penguatan akan bertambah jika level psikologis tersebut mampu ditembus, dan IHSG mengakhiri perdagangan di atasnya.

Sementara, selama tertahan di bawah resisten, IHSG berisiko terkoreksi ke 6.400. Support selanjutnya jika level tersebut ditembus berada di 6.365 dan 6.330.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading