Sesi I

Biden Mau Dilantik, Asing Borong Rp 538 M, IHSG Tembus 6.400

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
20 January 2021 12:02
Presiden terpilih Joe Biden. (AP/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melaju kencang dengan penguatan 1,31% ke 6.404,83 di sesi pertama perdagangan hari ini, Rabu (20/1/2021). IHSG mulai rebound setelah terkoreksi kemarin. 

Data perdagangan mencatat nilai transaksi mencapai Rp 14,3 triliun hingga sesi I. Di pasar reguler, investor asing mencatatkan aksi beli bersih senilai Rp 508 miliar. Tiga saham perbankan BUKU IV menjadi buruan asing.

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) diborong asing Rp 235,5 miliar dan naik 5,02% ke Rp 7.325/unit. Saham kedua yang paling diborong asing adalah saham bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan nilai Rp 146,8 miliar dan mengalami apresiasi 3,25% ke Rp 4.770/unit.


Terakhir ada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mengalami kenaikan 0,49% ke Rp 35.650/unit setelah diborong asing sebesar Rp 37,9 miliar. 

Sementara itu saham yang dilego oleh investor asing ada PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) yang cenderung stagnan di level Rp 1.475/unit setelah dilepas asing sebesar Rp 13,4 miliar.

Sebanyak 270 saham mengalami kenaikan, 205 di antaranya turun dan sisanya sebanyak 133 ditutup stagnan.

IHSG mendapat sentimen positif dari kinerja Wall Street semalam. Tiga indeks saham acuan utama kompak melenggang ke zona hijau. Dow Jones naik 0,4%. Indeks S&P 500 melompat 0,8% dan terakhir ada Nasdaq Composite yang memimpin penguatan dengan apresiasi sebesar 1,5%.

Pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS ke 46 akan menjadi perhatian utama pelaku pasar. Keamanan jalannya pelantikan tersebut tentunya menjadi perhatian utama.

Maklum saja, pendukung Donald Trump dikhawatirkan akan melakukan demo menolak pelantikan Biden. Dua pekan lalu, situasi di Washington DC bahkan cukup mencekam.

Pengunjuk rasa yang mendukung Presiden Donald Trump menyerbu gedung parlemen saat DPR, Senat, dan Wakil Presiden Mike Pence sedang mengadakan sidang untuk menetapkan Joe Biden sebagai Presiden AS ke-46.

Bentrokan pun tak terhindarkan, 4 orang dilaporkan tewas. Pasca insiden tersebut pemerintah AS memperketat penjagaan di Washington DC dan semua negara bagian, menjelang pelantikan Biden.

Keamanan dan stabilitas di AS jelang, saat, dan pasca pelantikan Biden akan memberikan sentimen positif ke pasar finansial global.

Setelahnya, pasar akan menanti gebrakan dari mantan wakil presiden 2 periode tersebut. Biden dikabarkan akan mengambil langkah cepat dalam 10 hari pertama pemerintahannya, dalam menanggulangi yang disebut 4 krisis, Covid-19, kemerosotan ekonomi, ketidakadilan rasial, serta perubahan iklim.

Begitu dilantik, Biden akan langsung bergabung kembali dalam perjanjian iklim Paris, dimana Trump sebelumnya keluar dari perjanjian tersebut. Biden juga akan mencabut larangan Muslim datang ke AS, kemudian mewajibkan penggunaan masker.

Pada hari Kamis, Biden akan menandatangani peraturan presiden terkait dengan pembukaan kembali sekolah dan dunia usaha. Di hari Jumat, ia kan memerintahkan Kabinetnya untuk segera bertindak memberikan bantuan ekonomi bagi keluarga yang terdampak krisis akibat Covid-19.

Sementara itu mengenai stimulus US$ 1,9 triliun, calon menteri keuangan AS Janet Yellen, saat berbicara di hadapan Komite Finansial Senat mengatakan hal tersebut akan menjadi fokus pertama nanti.

"Itu (stimulus fiskal) akan menjadi fokus utama saya jika saya menjadi menteri keuangan, fokus pada kebutuhan para pekerja yang tinggal di kota dan pedesaan, dan memastikan kami akan memiliki perekonomian yang baik yang memberikan pekerjaan dan gaji yang bagus," kata Yellen sebagaimana dilansirCNBC International.

Para senator AS memberikan berbagai pertanyaan kepada Yellen, mulai dari hubungan dengan China, pajak hingga utang yang membengkak.

Mengenai hubungan AS dengan China, Yellen mengatakan masih akan bersikap keras, namun dengan pendekatan yang berbeda dari rezim Donald Trump. Selain itu mantan ketua The Fed periode 2014-2018 ini juga menyinggung mengenai kenaikan pajak yang akan dilakukan, tapi tidak menjadi fokus utama saat ini. Begitu juga dengan kondisi fiskal dengan utang yang membengkak ke depannya akan dibenahi, tetapi tidak menjadi fokus utama saat ini.

Yellen juga membahas mengenai nilai tukar dolar AS. Berbeda dengan Pemerintahan Trump yang cenderung menginginkan dolar AS melemah, era Biden akan mendunkung dolar AS yang kuat dan stabil yang nilainya ditentukan oleh mekanisme pasar.

"Amerika Serikat tidak melemahkan mata uang untuk mendapat keuntungan kompetitif, dan kita juga harus melawan usaha yang sama yang dilakukan negara lain. Melemah mata uang untuk mendapat keuntungan komersial tidak dapat diterima," kata Yellen.

Bagaimanapun juga terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS ke-46 dan duet mautnya dengan mantan bos The Fed Jenet Yellen menjadi kabar positif untuk pasar karena punya pandangan yang sama terutama terkait prioritas mengembalikan ekonomi AS melalui stimulus.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading