Newsletter

Survei Sebut Wall Street Bubble, Investor Harus Bagaimana?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 January 2021 06:11
Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri bervariasi pada perdagangan Senin kemarin, meski kabar baik datang dari China, dimana pertumbuhan ekonominya mampu melesat. Pada perdagangan hari ini, Selasa (19/1/2021), rilis data pertumbuhan ekonomi China masih akan mempengaruhi pergerakan, selain juga faktor-faktor lainnya, misalnya hasil survei yang menunjukkan pasar saham AS sudah bubble, dan akan dibahas pada halaman 2 dan 3. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membukukan penguatan 0,25% ke 6389.834 setelah sebelumnya sempat beberapa kali masuk ke zona merah.



Data perdagangan mencatat investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) nyaris Rp 250 miliar di pasar reguler, dengan nilai transaksi mencapai Rp 23,08 triliun.

Sementara itu rupiah melemah 0,36% ke Rp 14.060/US$. Kemudian dari pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) bervariasi, yang tercermin dari pergerakan yield-nya.
Untuk diketahui, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun artinya harga naik, sebaliknya yield naik harganya turun.


Sentimen positif datang dari China yang melaporkan produk domestik bruto (PDB) kuartal IV-2020 tumbuh 6,5% year-on-year (YoY), lebih tinggi dari prediksi Reuters sebesar 6,1% YoY, dan melesat dari kuartal sebelumnya 4,9% YoY.

Saat negara-negara lain masuk ke jurang resesi, China berhasil lolos, sebab produk domestik bruto (PDB) hanya sekali mengalami kontraksi (tumbuh negatif) 6,8% di kuartal I-2020. Setelahnya, ekonomi China kembali bangkit dan membentuk kurva V-Shape.

Tidak hanya itu, ekspor China juga mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Di tahun 2020, ekspor China dilaporkan naik 3,6% dari tahun sebelumnya menjadi US$ 2,6 triliun, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, impor hanya turun 1,1% di tahun 2020 lalu. Artinya aktivitas ekonomi China sudah berputar cukup kencang saat negara-negara lain tersendat akibat menghadapi virus corona.

Roda perekonomian banyak negara masih tersendat-sendat di tahun 2020 lalu, tapi China masih sukses membukukan rekor ekspor. Apalagi ketika perekonomian global mulai pulih setelah adanya vaksinasi massal, besar kemungkinan ekspor China akan kembali meroket. Sehingga di tahun ini diprediksi akan terjadi China "boom" atau meroketnya pertumbuhan ekonomi China, dengan peningkatan ekspansi sektor manufaktur akibat peningkatan ekspor, serta dimulainya vaksinasi massal di berbagai negara.

China berperan penting dalam perekonomian dunia. Nilai PDB-nya terbesar kedua di dunia, kemudian China juga merupakan konsumen komoditas terbesar di dunia.
Saat perekonomiannya menunjukkan pertumbuhan, tentunya akan berdampak pada negara-negara lainnya, termasuk Indonesia.

IHSG mampu menguat merespon data PDB China tersebut, tetapi rupiah masih melemah dan SBN tak kompak.

Penyebabnya dolar AS sedang kuat-kuatnya. Pada Jumat pekan lalu, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS menguat 0,46%, dan berlanjut 0,11% hingga tengah hari ini ke 90,862, level tertinggi sejak 21 Desember lalu.

Kenaikan yield obligasi (Treasury) menjadi pemicu penguatan dolar AS.

Yield Treasury tenor 10 tahun misalnya, dua pekan lalu melesat 19,5 bps, sementara pekan lalu sempat naik 8 bps ke 1,187%, yang merupakan level tertinggi sejak Maret tahun lalu, atau persis saat penyakit akibat virus corona dinyatakan sebagai pandemi.

Artinya, yield Treasury AS kini nyaris mencapai level sebelum pandemi.

Kenaikan yield Treasury tersebut membuat selisihnya dengan yield SBN semakin menipis, sehingga menekan pasar obligasi. Selain itu ada risiko terjadinya capital outflow dari pasar obligasi Indonesia, yang memberikan tekanan bagi rupiah.

Cermati Sentimen Penggerak Pasar Hari ini
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading