SPECIAL REVIEW

Ini Rahasia Investasi BP Jamsostek Tetap Aman Kala Pandemi!

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
30 December 2020 18:21
Warga mempelajari platform investasi di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Baru-baru ini muncul kabar beberapa perusahaan pengelola reksa dana dan asuransi nasional goncang karena salah kelola, misalnya Jiwasraya, ataupun terpukul pandemi. Namun, BP Jamsostek justru adem-adem saja seperti terlihat dari kenaikan hasil investasinya.

Pada November, hasil investasi BP Jamsostek tumbuh lebih tinggi lagi yakni 8,1% menjadi Rp 28,92 triliun. Porsi investasi ke aset berisiko tinggi yakni saham pun naik jadi 15% berkat kenaikan nilai saham yang sudah dibeli, menunjukkan validnya keputusan trading mereka.


Apa rahasianya? Tim Riset CNBC Indonesia menemukannya dalam Pedoman Pengelolaan Investasi BPJS Ketenagakerjaan yang berisi kriteria dan aturan main trading saham. Secara umum, institusi memilih investasi di 45 saham unggulan di indeks LQ45. Jika ingin agresif di luar itu, jumlah saham yang dibeli tetap harus dibatasi.

Per November 2020, sebanyak 98% portofolio saham BP Jamsostek ditempatkan di saham LQ45, sehingga kualitas aset investasinya sangat bagus jika dibandingkan dengan Jiwasraya.

Untuk portofolio JHT dan Jaminan Pensiun (JP), BP Jamsostek hanya membeli maksimal 15 saham non-LQ45. Untuk dana kelolaan dari portofolio Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), maksimal hanya boleh dibelikan 10 saham non-LQ45.

Itupun dengan catatan: penempatan saham di satu emiten hanya boleh maksimal 5% dari jumlah investasi (per program). Untuk seluruh program, penempatan dana ke saham satu emiten harus di bawah 5% dari saham beredar perusahaan tersebut. Hal ini penting untuk menjaga prinsip diversifikasi aset: jangan menaruh semua telur di satu keranjang!

Lalu untuk menghindari saham gorengan-yang biasanya beroperasi lewat transaksi kecil-BP Jamsostek sengaja memilih trading saham dengan rerata nilai transaksi harian minimal Rp 20 miliar (3 bulan terakhir). Minimal kapitalisasi pasar pun harus sebesar Rp 3 triliun, yang mana sulit untuk digoreng karena bandar bakal perlu dana besar.

Jika hendak membeli saham melalui pasar perdana (initial public offering/IPO), maka BP Jamsostek hanya memilih emiten yang terindikasi bakal memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 3 triliun (dihitung dengan cara mengalikan jumlah saham pada harga penawaran terendah).

Itupun penawaran saham kepada publik (yang akan beredar di pasar) minimal harus 20% dari total saham yang perseroan, tidak termasuk di dalamnya saham yang dialokasikan untuk manajemen dan karyawan.

Teknis pembelian saham pun diatur ketat. Mitra kerja broker untuk main saham harus lulus penilaian scoring internal, dengan indikator kuantitatif (permodalan, likuiditas, rentabilitas dan aktivitas transaksi) dan kualitatif (reputasi baik dalam 3 tahun terakhir, riset kuat, pengalaman minimal 5 tahun, kredibilitas, market update, keamanan eksekusi trading).

Selain senantiasa menerapkan good governance, Direktorat Pengembangan Investasi BP Jamsostek selalu berusaha melakukan efisiensi biaya, seperti biaya transaksi untuk investasi saham, obligasi dan reksadana yang telah diterapkan sejak bulan Maret tahun 2017 silam.

Besaran efisiensi transaksi yang dilakukan mencapai 50%-75%. Efisiensi ini dilakukan karena dana kelolaan yang semakin besar harus diimbangi dengan biaya transaksi yang semakin efisien. Dampak dari efisiensi ini sangat signifikan bagi peningkatan dana peserta.

Dengan modus operandi trading sedetil, se-prudent, dan seefisien itu, tidak mengherankan jika investasi BP Jamsostek terus aman dan bertumbuh, tanpa permasalahan likuiditas, seolah-olah anti-pandemi.

Selama 38 tahun kiprahnya (1977-2015), BP Jamsostek telah mengumpulkan dana kelolaan sekitar Rp 206,58 triliun. Namun selama 2016-November 2020 (sekitar 4 tahun saja), dana kelolaan tersebut melonjak lebih dari 2 kali lipat mencapai Rp 472,9 triliun.

Ingin selamat trading tahun depan? Ikuti cara itu!

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading