Kaleodoskop Indeks

Yuk Beri Applause buat IHSG! Ini Jawara Indeks & Saham 2020

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
30 December 2020 08:25
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia- Bulan Desember sudah hampir berakhir, 2020 sudah mendekati penghujung tahun. Tahun ini tentunya akan menjadi tahun yang diingat oleh umat manusia.

Bukan kenangan manis tapinya yang nantinya akan diingat. Bagaimana tidak, pada tahun ini umat manusia diserang pandemi virus Corona yang hingga detik ini sudah menjangkit 82 juta umat manusia dan telah merengut 1,8 juta jiwa.

Bermula dari kota Wuhan, China pada November tahun lalu, kala itu penyakit ini belum bernama Covid-19 dan masih dikenal dengan Pneumonia Wuhan virus ini merebak dengan sangat cepat hingga akhirnya ditetapkan oleh badan kesehatan internasional WHO sebagai pandemi Maret silam.


Indonesia juga tentunya tidak luput dari kedatangan virus ini, tentunya masih segar di ingatan masyarakat tentunya ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa Indonesia kedatangan tamu tak diundang ini pada 2 Maret 2020.

Hingga saat ini sudah 719.000 warga negara Indonesia yang sudah terjangkit corona dan 21.000 diantaranya meninggal.

Sentimen super buruk ini sendiri tak hanya dirasakan oleh sektor riil yang terpaksa tidak dapat beroperasi karena pemerintah dari seluruh negara ramai-ramai melakukan penguncian wilayah alias lockdownuntuk menahan laju pergerakan virus corona. Di dalam negeri penguncian ini juga terjadi meski namanya lebih lokal yakni Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)

Pasar modal di seluruh belahan dunia pun terkena imbasnya tentu masih segar di ingatan para pelaku pasar ketika Maret silam dimana bursa efek di seluruh belahan dunia terpaksa tumbang bersamaan. Kala itu ketakutan akan ketidakpastian menyelimuti pasar modal sehingga terjadimarket sell offbesar-besaran.

Aksi jual terjadi di semua pasar modal, di semua sektor saham, bahkan di seluruh saham, bahkan di hampir semua instrumen investasi sehingga muncul jargonCash is The Kingkala itu.

Di Indonesia terutama pasar modalnya sendiri terkena efek yang cukup parah meskipun kala itu regulator yakni Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan aturan maksimal koreksi 10% pada suatu saham yang kemudian direvisi menjadi 7% dalam sehari.

Kala itu hampir seluruh saham-saham unggulan dilego oleh para pelaku pasar hingga anjlok menyentuh level terendahnya aliasauto reject bawah(ARB). Indeks pun tumbang 5% hingga 6% dalam sehari selama beberapa hari.

Indeks acuan pasar modal dalam negeri Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkapar parah dari level 5.650 hingga menyentuh titik nadirnya di angka 3.911, jebol ke bawah level 4.000 atau penurunan sebanyak 30,77% hanya dalam 14 hari perdagangan. Bahkan apabila diukur dari level awal tahun hingga titik nadirnya, IHSG anjlok hingga mencapai 37,91%.

Dari titik nadirnya itulah IHSG mulai pulih, tentu masih segar di ingatan para pelaku pasar hanya selang sehari sejak IHSG menyentuh level terendahnya itu, indeks acuan pasar modal sukses terbang tinggi 10,19% di hari selanjutnya dan menjadi kenaikan indeks acuan tertinggi pada tahun ini bahkan kenaikan ini tertinggi sejak 21 tahun silam.

Sejak saat itulah 'balas dendam' IHSG dimulai, IHSG sukses reli panjang meski tentunya diiringi oleh berberapa koreksi sehat seperti di bulan September di mana ketika Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menarik kembali rem darurat PSBB longgar untuk menahan laju penyebaran Covid-19 di Ibu Kota.

Periode 3 bulan terakhir di tahun 2020 sendiri menjadi bulan 'kemenangan' IHSG di mana selama 3 bulan terakhir ini IHSG reli kencang dimana Oktober mencatatkan apresiasi 5,30%, November terbang 9,44%, dan Desember loncat 7,55%.

Selama 3 bulan tersebut IHSG lari kencang dari level 4.870 ke level saat ini di angka 6.036 atau kenaikan sebesar 23,94%. Di posisi saat ini sendiri IHSG sejatinya masih terjangkit Covid-19 meskipun sudah tidak parah yang ditunjukkan oleh indeksnya yang belum pulih ke level awal tahun karena masih terkoreksi 4,18%.

Meskipun demikian IHSG tidak sendirian, banyak negara di Asia yang masih terjangkit corona juga, bahkan peringkat IHSG berhasil merangkak naik setelah sebelumnya merupakan indeks acuan dengan koreksi paling parah kedua pada semester pertama tahun ini.

Perbandingan Bursa Asia, simak tabel berikut.

Tercatat dari 13 bursa besar di Benua Kuning 8 indeks acuan sudah berhasil menghijau dan hanya 3 yang terkoreksi. IHSG sendiri menjadi peringkat ke lima bursa Asia dengan koreksi terparah, tidak buruk tentunya mengingat di semester pertama kita menduduki peringkat kedua terburuk.

Apresiasi paling besar sendiri dibukukan oleh Shenzhen Composite di China yang merupakan indeks yang kaya akan emiten sektor teknologi dan digadang-gadang sebagai Nasdaq-nya China. Shenzhen Composite sukses melesat kencang 31,08%.

Well, hal ini wajar mengingat saham-saham teknologi banyak yang diuntungkan ketika masyarakat terkurung di rumah dan lebih banyak menggunakangadgetmereka untuk berkomunikasi dan mencari hiburan, tengok saja indeks teknologi Nasdaq yang juga sukses terbang 41,33%.

Di posisi kedua muncul Indeks KOSPI dari Korea Selatan (Korsel), para pelaku pasar mengapresiasi kesuksesan pemerintah Negeri Ginseng dalam menanggulangi virus nCov-19 yang ditunjukkan dengan indeks acuanya yang terbang 28,34%.

Catat saja ketika negara lain masih berkutat melawan virus yang suka akan keramaian ini, Korsel sudah sukses menang melawanya. Tercatat dari rentang waktu Maret hingga Agustus kasus tambahan corona harian Korsel tidak lebih dari 100 kasus per hari. Total kasus di Korsel sendiri sebanyak 58 ribu kasus dan 'hanya' 859 korban jiwa.

Sedangkan koreksi terparah di Benua Kuning terjadi tidak lain dan tidak bukan di indeks acuan negara Singapura yakni STI yang masih terkoreksidouble digit11,63%.

Wajar saja Negara Singa masih terkoreksi parah sebab pendapatan negara tersebut utamanya datang dari posisi strategis Singapura sebagaihubperdagangan internasional alias 'makelar' sehingga kala perdagangan internasional macet karena corona, maka praktis Singapura akan terdampak parah.

NEXT: Bangga IHSG

Siapa Indeks Sektoral Terbaik?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading