Kurs Dolar Singapura & Australia Meroket, Ada Apa Ini?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 December 2020 15:25
FILE PHOTO: A Singapore dollar note is seen in this illustration photo May 31, 2017.     REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Singapura dan Australia sama-sama menguat tajam melawan rupiah pada perdagangan Rabu (23/12/2020). Artinya, rupiah sedang dalam masalah.

Melansir data Refinitiv, dolar Singapura pagi ini melesat 0,8% ke Rp 10.668,01/SG$, sebelum terpangkas dan berada di level Rp 10.617,75/SG$, menguat 0,17% pada pukul 11:04 WIB.

Sementara itu, di waktu yang sama dolar Australia menguat 0,51% ke Rp 10.710,15/AU$, setelah sebelumnya sempat melesat 0,67%.


Rupiah tertekan kemungkinan besar akibat terjadi capital outflow melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta Surat Berharga Negara (SBN) yang merosot pada hari ini.

IHSG sempat ambrol 2,8% pada perdagangan hari ini, sebelum mengakhiri perdagangan sesi I di level 5.996,711, melemah 0,44%.

Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sekitar Rp 134 miliar di pasar reguler.

Sementara itu di pasar SBN, yield tenor 10 tahun naik 2,3 basis poin (bps) menjadi 6,134%. Tidak hanya hari ini, sejak awal pekan yield SBN sudah mengalami kenaikan, total sebesar 15,8 bps.

Untuk diketahui, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Saat yield naik, artinya harga sedang turun.

Saat harga turun, kemungkinan asing melepas kepemilikannya, artinya terjadi capital outflow.

Potensi capital outflow terjadi akibat sentimen pelaku pasar global yang memburuk setelah virus corona bermutasi di Inggris dan penyebarannya dikatakan menjadi lebih cepat.

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock mengumumkan temuan varian baru virus corona bernama VUI 202012/01 atau dalam klaster pohon filogenetiknya (pohon kekerabatan berdasarkan data genetik) disebut sebagai varian B.1.1.7.

Varian baru virus Covid-19 tersebut dikabarkan memiliki 70% peluang penularan lebih tinggi ketimbang strain awalnya. Akibatnya, banyak negara-negara yang menutup perbatasannya dengan Inggris.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah mengidentifikasi virus ini di Denmark, Belanda, dan Australia.

Alhasil, bursa saham Eropa sempat mengalami aksi jual masif di awal pekan ini, sementara bursa saham AS mayoritas juga mengalami pelemahan, disusul bursa Asia kemarin.

IHSG juga merosot lebih dari 2% Selasa kemarin, yang menjadi indikasi memburuknya sentimen pelaku pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading