Wow! Yield Obligasi RI Menyentuh Level Terendah Tahun Ini

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
02 December 2020 07:00
Business concept. Business people discussing the charts and graphs showing the results of their successful teamwork. Selective focus.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan harga obligasi pemerintah atau surat berharga negara sepanjang November catatkan penguatan yang cukup baik.

Harga SBN acuan 10 tahun mengalami kenaikan sejak awal November, bahkan kenaikan ini terjadi sejak Oktober lalu.

Dilihat dari imbal hasilnya (yield), SBN acuan 10 tahun terus mengalami penurunan ke level 6,188% per 30 November 2020. Secara bulanan, yield SBN 10 tahun telah turun 6,8 basis poin.


Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang naik. Demikian juga sebaliknya.

Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Sepanjang November, asing terus masuk di SBN. Walaupun di beberapa hari sepanjang November nilai kepemilikan asing pernah turun, namun penurunan ini tidak terlalu signifikan. Pada tanggal 26 November lalu, nilai kepemilikan asing di SBN sebesar Rp 948,26 triliun. 

Tak hanya itu, kinerja positif SBN juga didukung oleh melonjaknya permintaan lelang surat utang negara (SUN) pada Selasa, 17 November lalu, di mana lelang SUN tersebut kelebihan permintaan (oversubscribed) 5 kali lipat dengan total penawaran yang masuk sebesar Rp 104,7 triliun.

Jika dibandingkan dengan obligasi pemerintah negara berkembang lainnya, Indonesia berhasil menduduki posisi pertama penurunan yield SBN 10 tahun terbesar di November 2020, di mana yield SBN 10 tahun Indonesia mengalami penurunan 42,1 basis poin menjadi dari posisi sebelumnya Oktober 2020 di level 6,609%.

Di posisi kedua diduduki oleh obligasi negara Afrika Selatan, dengan penurunan 32,5 basis poin menjadi 8,99% di November 2020.

Mayoritas, obligasi pemerintah di delapan negara berkembang mengalami penguatan, artinya harga obligasi pemerintah mengalami pelemahan, di mana penguatan yield terbesar ada di obligasi pemerintah Malaysia yang naik 14,2 basis poin.

Ini membuktikan bahwa aliran dana asing masuk lebih deras ke Indonesia pada November 2020. Selain saham, ternyata obligasi pemerintah Indonesia tak kalah saing dengan obligasi pemerintah di delapan negara berkembang lainnya.

Yield SBN yang turun selama November 2020 dan asing ramai mengoleksi SBN disebabkan karena investor merespons positif terkait tiga kandidat vaksin, yakni Pfizer, Moderna, dan AstraZeneca yang mewarnai pasar keuangan global maupun domestik sepanjang November 2020.

Tiga pengembang vaksin Covid-19 yaitu Pfizer-BioNTech, Moderna dan AstraZeneca mengklaim kandidat vaksin mereka punya efektivitas proteksi hingga lebih dari 90%.

Kendati baru analisa awal data uji klinis tahap akhir, prospek menjanjikan ini membuat para pelaku pasar pun optimis.

Selain vaksin, pemangkasan suku bunga juga jadi penyebab reli kenaikan harga SBN tak terbendung sepanjang November 2020 lalu.

BI memutuskan untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility turun menjadi 3% dan suku bunga Lending Facility sekarang di 4,5%.

"Keputusan ini mempertimbangkan perkiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga dan langkah pemulihan ekonomi nasional," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai RDG.

Hal ini tidak diperkirakan oleh mayoritas pelaku pasar. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dan Reuters menghasilkan proyeksi BI 7 Day Reverse Repo Rate tetap di 4%.

Artinya, suku bunga acuan kini berada di di posisi terendah sejak diperkenalkan pada Agustus 2016 menggantikan BI Rate.

Dalam kondisi normal, penurunan suku bunga acuan membuat rentang (spread) imbal hasil SBN suatu negara menipis jika dibandingkan dengan negara maju, yang pda gilirannya menekan harga surat utang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading