November: Harga Emas Ambrol 5%, Minyak Terbang 25% Lebih

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
01 December 2020 14:28
FILE PHOTO: Oil pours out of a spout from Edwin Drake's original 1859 well that launched the modern petroleum industry at the Drake Well Museum and Park in Titusville, Pennsylvania U.S., October 5, 2017. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Bulan November menjadi bulan berkah bagi sebagian komoditas. Namun tidak bagi emas. Ketika harga kontrak futures minyak mentah, minyak sawit (CPO) dan batu bara mengalami kenaikan, harga emas justru longsor.

Pemicunya bermuara pada risk appetite investor yang pulih. Dalam satu bulan terakhir kabar positif pengembangan vaksin Covid-19 membuat pasar sumringah. Bagaimana tidak?

Tiga pengembang vaksin Covid-19 yaitu Pfizer-BioNTech, Moderna dan AstraZeneca mengklaim kandidat vaksin mereka punya efektivitas proteksi hingga lebih dari 90%. Kendati baru analisa awal data uji klinis tahap akhir, prospek menjanjikan ini membuat para pelaku pasar pun optimis.


Aset-aset minim risiko (safe haven) seperti emas pun tak kuasa dilego oleh para investor. Akhirnya harga emas langsung ambles. Sepanjang bulan lalu harga bullion di arena pasar spot turun 5,37%.

Di saat yang sama, harga-harga komoditas lain malah terbang. Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatif Exchange misalnya, kontrak minyak nabati yang teraktif ditransaksikan ini berhasil menguat 9,76%.

Bahkan harga CPO sempat tembus ke level tertinggi dalam delapan setengah tahun terakhir. Selain karena kabar vaksin, prospek pasokan yang ketat akibat La Nina hingga kekurangan tenaga kerja yang terjadi di Malaysia membuat harga komoditas unggulan Indonesia dan Malaysia ini tertekan ke atas.

Di pasar energi, harga kontrak futures batu bara dan minyak mentah kompak terangkat. Untuk kontrak futures batu bara termal Newcastle harganya naik 18,06% sepanjang bulan lalu, sementara untuk kontrak minyak mentah Brent dan WTI menguat lebih dari 25%.

Harga CPO dan batu bara berhasil menguat dan kembali ke level sebelum pandemi Covid-19. Meskipun harga minyak belum pulih ke level pra-pandemi tetapi berada di kisaran harga tertingginya sejak Maret lalu.

Perbaikan fundamental dari sisi permintaan yang meningkat dari pasar utama seperti India yang dibarengi dengan pemangkasan produksi oleh negara penghasil membuat harga batu bara terdongkrak.

Rencana para kartel minyak yang dikenal dengan sebutan OPEC+ untuk menunda peningkatan produksi sebesar 2 juta barel per hari (bph) mulai Januari nanti juga menambah tekanan ke atas terhadap harga minyak.

Prospek Sampai Akhir Tahun Bagaimana?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading