Harga CPO Kuat di Level RM 3.200, Ini Penyebabnya

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
01 December 2020 11:27
Ilustrasi Kelapa Sawit (CNBC Indonesia/Rivi Satrianegara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia mengalami apresiasi tipis pada perdagangan awal bulan Desember hari ini, Senin (1/12/2020) pasca mengalami koreksi pada perdagangan kemarin. 

Harga CPO kontrak pengiriman Februari 2021 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange menguat 0,06% dibanding posisi penutupan kemarin ke level RM 3.307/ton. Di sepanjang bulan November harga CPO mengalami kenaikan sebesar 11,09%. Kenaikan tajam harga CPO justru terjadi di awal-awal bulan November.

Setelah menyentuh level tertingginya pada 12 November lalu, harga kontrak CPO mulai berfluktuasi dan cenderung mengalami tren koreksi. Meskipun berada di tren koreksi, harga kontrak CPO sudah pulih dan kembali ke level sebelum pandemi Covid-19 merebak. Bahkan lebih tinggi sampai menyentuh level tertinggi delapan tahun.


Ada beberapa sentimen yang membuat harga CPO cenderung terpangkas belakangan ini. Pertama adalah harga minyak mentah yang juga terkoreksi. CPO merupakan salah satu bahan baku biodiesel yang digunakan sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak yang berasal dari fossil fuel.

Penurunan harga minyak akan cenderung membuat penggunaan biodiesel dari CPO menjadi kurang kompetitif. Sehingga akan berpengaruh terhadap permintaan minyak nabati jenis ini untuk pasar bahan bakar nabati.

Sentimen negatif yang kedua berasal dari Malaysia. Bloomberg melaporkan Malaysia saat ini tidak memiliki rencana untuk memperpanjang pembebasan pajak atas minyak sawit yang akan berakhir pada 31 Desember, mengutip Kementerian Industri Perkebunan dan Komoditas negara tersebut.

"Harga kelapa sawit melemah karena kekecewaan bahwa Malaysia tidak berencana untuk memperpanjang pembebasan pajak atas minyak sawit mentah," kata seorang trader di Kuala Lumpur kepada Reuters

Namun di tengah sentimen negatif tersebut terselip kabar yang menggembirakan. India sebagai konsumen terbesar minyak sawit global memutuskan untuk memangkas bea masuk sebesar 10 poin persentase dari 37,5% menjadi 27,5%. Pemerintah India dikabarkan mencemaskan harga minyak nabati lokal yang terlalu tinggi.

Opsi pemangkasan bea masuk ini diharapkan dapat membantu pasar untuk kembali cooling down. Berdasarkan laporan S&P Global margin impor saat ini sudah menyentuh angka negatif US$ 25 - US$ 30 per ton.

Sumber di pasar memperkirakan bahwa impor minyak sawit ke India pada bulan Desember dapat meningkat menjadi sekitar 700.000-730.000 mt, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 550.000-600.000 mt.

Sementara itu Sudhakar Desai, Presiden Indian Vegetable Oil Producers Association (VPA), memperkirakan permintaan CPO di negaranya bisa melonjak hingga 100.000 ton per bulan dengan kebijakan tersebut. Sebab, impor CPO akan lebih murah ketimbang produk pesaingnya.

"Pemangkasan ini membuat CPO lebih kompetitif. Kami cukup membayar bea masuk 7,5% lebih murah dibandingkan impor minyak kedelai atau biji bunga matahari," kata Desai, sebagaimana diwartakan Reuters. Sebagai informasi, tarif bea masuk untuk minyak kedelai dan biji bunga matahari di India adalah 35%.

Sandepp Bajoria, CEO Sunvin Group, menghitung bea masuk CPO akan menjadi US$ 225 ton lebih murah ketimbang. Ini bisa memancing dunia usaha untuk mengimpor CPO lebih banyak

Kenaikan harga CPO dan permintaan India akan berdampak positif bagi Indonesia. Sebab, CPO adalah salah satu komoditas andalan ekspor Tanah Air.

Pada Januari-Oktober 2020, nilai ekspor lemak dan minyak hewan/nabati (yang didominasi CPO) mencapai US$ 15,75 miliar. Jumlah ini setara dengan 12,6% dari total ekspor non-migas yang sebesar US$ 125 miliar, menduduki peringkat pertama.

Faktor inilah yang membuat harga CPO meski diterpa sentimen negatif belum anjlok ke bawah RM 3.200/ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading