Ada Kabar Kurang Sedap dari Malaysia, Harga CPO Drop 1% Lebih

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
30 November 2020 11:07
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia terkoreksi pada perdagangan pagi awal pekan ini Senin (30/11/2020) usai menguat 1,52% sepanjang minggu lalu. 

Pada 10.10 WIB, harga CPO kontrak pengiriman Februari 2021 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange mengalami koreksi sebesar 1,03% dibanding posisi penutupan minggu lalu ke RM 3.302/ton. 

Koreksi yang terjadi pada hari ini dipicu oleh kabar kurang mengenakkan yang datang dari Malaysia. Bloomberg melaporkan Malaysia saat ini tidak memiliki rencana untuk memperpanjang pembebasan pajak atas minyak sawit yang akan berakhir pada 31 Desember, mengutip Kementerian Industri Perkebunan dan Komoditas negara tersebut.


"Harga kelapa sawit melemah karena kekecewaan bahwa Malaysia tidak berencana untuk memperpanjang pembebasan pajak atas minyak sawit mentah," kata seorang trader di Kuala Lumpur kepada Reuters.

Namun di tengah sentimen negatif tersebut terselip kabar yang menggembirakan. India sebagai konsumen terbesar minyak sawit global memutuskan untuk memangkas bea masuk sebesar 10 poin persentase dari 37,5% menjadi 27,5%. Pemerintah India dikabarkan mencemaskan harga minyak nabati lokal yang terlalu tinggi.

Opsi pemangkasan bea masuk ini diharapkan dapat membantu pasar untuk kembali cooling down. Berdasarkan laporan S&P Global margin impor saat ini sudah menyentuh angka negatif US$ 25 - US$ 30 per ton.

Sumber di pasar memperkirakan bahwa impor minyak sawit ke India pada bulan Desember dapat meningkat menjadi sekitar 700.000-730.000 mt, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 550.000-600.000 mt.

Sementara itu Sudhakar Desai, Presiden Indian Vegetable Oil Producers Association (VPA), memperkirakan permintaan CPO di negaranya bisa melonjak hingga 100.000 ton per bulan dengan kebijakan tersebut. Sebab, impor CPO akan lebih murah ketimbang produk pesaingnya.

"Pemangkasan ini membuat CPO lebih kompetitif. Kami cukup membayar bea masuk 7,5% lebih murah dibandingkan impor minyak kedelai atau biji bunga matahari," kata Desai, sebagaimana diwartakan Reuters. Sebagai informasi, tarif bea masuk untuk minyak kedelai dan biji bunga matahari di India adalah 35%.

Sandepp Bajoria, CEO Sunvin Group, menghitung bea masuk CPO akan menjadi US$ 225 ton lebih murah ketimbang. Ini bisa memancing dunia usaha untuk mengimpor CPO lebih banyak

Kenaikan harga CPO dan permintaan India akan berdampak positif bagi Indonesia. Sebab, CPO adalah salah satu komoditas andalan ekspor Tanah Air.

Pada Januari-Oktober 2020, nilai ekspor lemak dan minyak hewan/nabati (yang didominasi CPO) mencapai US$ 15,75 miliar. Jumlah ini setara dengan 12,6% dari total ekspor non-migas yang sebesar US$ 125 miliar, menduduki peringkat pertama.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Hore! Harga CPO Sudah di Atas RM 3.300/ton, Siap ke RM 3.500?


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading