Harga CPO Turun Lagi, tapi ke Depan Masih Ada La Nina Lho!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
26 November 2020 12:09
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia masih berada dalam tren koreksi. Namun harga kontrak futures CPO masih tetap berada di rentang tertingginya. 

Kamis (26/11/2020), harga CPO untuk kontrak pengiriman Februari di Bursa Malaysia Derivatif Exchange turun 0,2% dari posisi penutupan kemarin. Pada 10.40 WIB, harga CPO dibanderol di RM 3.278/ton.


Biasanya ketika harga minyak mentah naik, harga CPO akan ikut terdongkrak. Namun kali ini yang terjadi justru berbeda meskipun harga minyak terus melesat, harga CPO cenderung terkoreksi dalam dua pekan terakhir. 

Alasan utamanya adalah harga CPO sudah melesat terlebih dahulu ketika harga minyak sedang terkoreksi. Selain faktor harga yang sudah melambung tinggi, ekspor bulan November dan akhir tahun yang lemah membuat harga tertekan. 

Ekspor November diperkirakan bakal lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Menurut perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia, ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk 1-20 November turun 16,25% menjadi 908.443 ton dari 1.084.701 ton untuk periode pengiriman 1-20 Oktober,

Untuk periode 20 hari pertama bulan November, ekspor CPO drop 43,9% secara month on month (mom) dibanding periode bulan Oktober. Pengiriman CPO ke luar negeri hanya tercatat mencapai 213.150 ton dari bulan sebelumnya 380.046 ton.

Ekspor minyak inti sawit mentah juga drop signifikan pada periode yang sama. Ekspor minyak nabati jenis ini pada bulan November tercatat hanya 5.000 ton. Padahal sebelumnya mencapai 17.200 ton atau turun 70,9% (mom).

Namun harga CPO masih belum beranjak turun dari level RM 3.200 dan tertahan dari koreksi yang lebih dalam lantaran ancaman penurunan output akibat La Nina masih membayangi. 

Ravichandran, Senior Vice-President & Group Head, Corporate Ratings, ICRA, mengatakan dalam rilisnya "Kami percaya bahwa meskipun curah hujan yang lebih tinggi yang disebabkan oleh pola cuaca La Nina dapat meningkatkan hasil buah sawit, curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata dapat mengganggu produksi di bulan-bulan mendatang yang dapat menyebabkan harga minyak sawit menguat dalam periode yang lebih lama." melansir Reuters.

ICRA memperkirakan tahun 2020 permintaan dari segmen HoReCa (hotel, restoran dan katering) mulai meningkat secara bertahap. Meskipun demikian, untuk setahun ke depan konsumsi akan tetap moderat total konsumsi minyak sawit tetap 15% lebih rendah.

ICRA memperkirakan nilai impor minyak nabati meningkat 12 -15% di FY21 meskipun terjadi penurunan volume. Lebih lanjut, dengan pembatasan impor minyak sawit rafinasi, permintaan minyak sawit dalam negeri harus dipenuhi melalui penyuling minyak sawit dalam negeri.

Perlambatan permintaan minyak sawit (25%) tetap lebih rendah dari kenaikan harga (50%), sehingga bakal meningkatkan omzet para penyuling minyak sawit sebesar 20% -25%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading