Sudah Reli Panjang, Harga CPO Santai Dulu Hari Ini

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
05 August 2020 11:03
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada perdagangan Rabu ini (5/7/2020), harga minyak sawit mentah (CPO) Negeri Jiran terkoreksi tipis setelah menguat ke rentang tertingginya sejak 5 bulan terakhir. 

Pada 10.03 WIB harga CPO untuk kontrak pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatif Exchange turun 7 ringgit atau melemah 0,25% ke RM 2.761/ton. Kemarin harga CPO ditutup di RM 2.768/ton.


Pelemahan yang terjadi hari ini merupakan koreksi yang wajar. Secara tren, harga CPO berada pada tren penguatan sejak memasuki bulan Mei. Reli harga komoditas ini terjadi seiring dengan relaksasi lockdown di banyak negara terutama dari para importirnya yaitu, India, China dan Uni Eropa.

Di sepanjang bulan Juli, harga CPO untuk kontrak yang aktif diperdagangkan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange mencatatkan kenaikan hingga 15%, ketika harga minyak hanya naik 2,17% dan batu bara terkoreksi 1,6%.

Membaiknya hubungan India dan Malaysia disertai dengan penerapan tarif ekspor minyak sawit nol persen di Negeri Jiran cukup efektif mendongkrak permintaan. Hal ini tercermin dari data ekspor bulan lalu. 

Berdasarkan pelacakan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan surveyor kargo, ekspor minyak sawit Malaysia naik 5,8% hingga 6,8% bulan lalu dibanding bulan Juni. Kenaikan ekspor dipicu oleh kenaikan ekspor CPO. Sementara untuk produk turunannya cenderung melemah.

India kembali membeli minyak sawit dari Malaysia dalam jumlah yang besar. Perbaikan permintaan ini tentu berakibat positif terhadap harga. Dari sisi pasokan, curah hujan yang tinggi hingga berakibat banjir di beberapa wilayah Kalimantan sebagai sentra produksi sawit juga membuat output terancam menurun. 

Menurut seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur, saat ini pelaku pasar sedang menantikan data output serta stok minyak sawit bulan Juli yang akan dirilis oleh asosiasi atau Malaysian Palm Oil Association. Pelaku pasar memperkirakan produksi dan stok turun pada bulan Juli.

Di sisi lain, harga minyak nabati non-CPO yang menguat juga menjadi sentimen positif yang menggerakkan harga komoditas unggulan Negeri Jiran dan RI ini. 

Namun ke depan harga komoditas ini menghadapi risiko ketidakpastian yang tinggi. Risiko ini meliputi kapan pandemi Covid-19 akan berakhir, berapa lama lagi publik harus menunggu vaksin tersedia.

Pasalnya jika vaksin tak segera ditemukan dan Covid-19 masih merebak, roda perekonomian masih belum bisa melaju kencang. Akibatnya harga-harga komoditas masih tertahan.

Ancaman juga datang dari tensi geopolitik yang tinggi, terutama antara Washington-Beijing. Eskalasi konflik dari perang dagang dan saling menyalahkan serta memberi sangsi membuat prospek ekonomi kian suram.

Periode pemulihan yang cepat terancam melambat dan kurva yang dibentuk bukan lagi 'V' melainkan 'U' atau lebih parah. Faktor inilah yang perlu dicermati ke depannya.

Sehingga secara keseluruhan, fundamental pasar masih rawan selagi musuh tak kasat mata bernama virus corona masih ada di muka bumi dan belum benar-benar bisa dijinakkan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading