Ini Jurus PTBA Hadapi Era Sunset Batu Bara 20 Tahun Mendatang

Market - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
25 November 2020 19:25
Doc.PTBA

Jakarta, CNBC Indonesia - Energi berbasis fosil seperti batu bara sudah mulai ditinggalkan, banyak negara mulai beralih ke energi baru terbarukan (EBT). Jika tidak melakukan sesuatu, maka industri batu bara akan segera memasuki masa 'sunset'.

Lalu, apa yang bisa dilakukan industri batu bara menghadapi transisi ini?

Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Arviyan Arifin mengatakan, langkah yang bisa diambil oleh perusahaan batu bara dalam menghadapi era 'sunset' batu bara ini adalah dengan melalukan hilirisasi. Dia mengatakan batu bara sebagai energi primer selama ini pemanfaatannya belum maksimal yakni hanya diangkut, dijual, dan dibakar.


Pemanfaatan batu bara seperti yang terjadi selama ini dalam 20-30 tahun ke depan kemungkinan masih akan bertahan. Namun setelah itu, tanpa adanya transformasi, maka menurutnya industri ini akan akan sampai pada masa tenggelam atau 'sunset'.

"20-30 tahun masih baik, tapi setelah itu saya rasa akan 'sunset', ketinggalan. Kita harus melakukan transformasi bisnis yang sudah kita canangkan, PTBA beyond coal, mengubah batu bara menjadi gas dengan konsep hilirisasi," paparnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Rabu(25/11/2020).

PTBA Butuh USD 2 Miliar Untuk Hilirisasi Batu Bara (CNBC Indonesia TV)Foto: PTBA Butuh USD 2 Miliar Untuk Hilirisasi Batu Bara (CNBC Indonesia TV)
PTBA Butuh USD 2 Miliar Untuk Hilirisasi Batu Bara (CNBC Indonesia TV)

Proyek gasifikasi ini, imbuhnya, mengubah batu bara menjadi produk dimethyl ether (DME) yang bisa menjadi substitusi liquefied petroleum gas (LPG), di mana selama ini mayoritas kebutuhan LPG masih dipenuhi dengan cara impor. Teknologi DME ini menurutnya sudah berjalan baik di China.

"Ini bisa menjawab tantangan 'sunset' batu bara," ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dalam mengerjakan proyek gasifikasi ini pihaknya sudah melakukan studi kelayakan dengan melibatkan berbagai pihak. Mulai dari para konsultan, para praktisi, dan para industrialis.

"Kita perlukan investasi hampir US$ 2 miliar ya, atau Rp 30 triliun yang nanti akan dibangun oleh investor. PTBA akan suplai batu bara, nanti DME-nya disalurkan Pertamina," paparnya.

DME sebagai pengganti LPG menurutnya, secara teknis dan ekonomis akan memberikan nilai yang lebih baik bagi pemerintah dan masyarakat. Subsidi bisa berkurang dan masyarakat mendapatkan harga yang lebih baik. Bahkan, dengan memproduksi 1,4 juta ton DME per tahun mampu mengurangi impor LPG setara 1 juta ton per tahun. Ini artinya, ada penghematan devisa sekitar Rp 8,7 triliun per tahun.

"Selain itu, kita bisa manfaatkan kalori rendah yang selama ini tidak mungkin dijual, tidak bisa diserap market, di mana yang selama ini tidak ada nilainya, maka kita olah menjadi DME," jelasnya.

Proyek DME ini ditargetkan akan mulai operasi pada triwulan II 2024, sehingga paling tidak impor LPG mulai tahun itu hingga ke depannya bisa ditekan.

"Kalau sudah berhasil, kita akan lanjut ke hilirisasi lainnya," ungkapnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading