PLN Masih Ketergantungan Batu Bara, Ini Buktinya!

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
25 November 2020 14:18
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah telah menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 23% pada 2025. Namun sayangnya, target tersebut masih jauh dari capaian saat ini.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga triwulan kedua 2020, bauran EBT nasional baru mencapai 10,9%, naik tipis dari capaian hingga akhir 2019 yang sebesar 9,1%.

Sementara kontribusi batu bara dan minyak masih mendominasi yakni masing-masing sebesar 35%, dan gas sebesar 19%.


Dari sisi bauran EBT untuk pembangkit listrik, PLN mencatatkan kontribusi energi baru terbarukan dalam penggunaan bahan bakar pembangkit listrik hingga November baru mencapai 12,6%. Sementara non-EBT masih sangat besar yakni 87,4%.

Hal tersebut disampaikan Direktur Mega Project PLN Muhammad Ikhsan Asaad saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (25/11/2020).

Dari data yang dipaparkannya menunjukkan bahwa kontribusi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara masih mendominasi yakni mencapai 50,4% atau sebesar 31.827 mega watt (MW). Terbesar kedua berbahan bakar gas dari pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) sebesar 19,2% atau 12.137 MW, kemudian disusul pembangkit listrik tenaga gas/ mesin gas sebesar 10,7% atau 6.765 MW, dan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sebesar 7,1% atau 4.487 MW.

Dengan demikian, subtotal untuk pembangkit listrik berbahan bakar fosil atau non-EBT mencapai 87,4% atau 55.216 MW.

"Kondisi kelistrikan kita sampai 2020 didominasi pembangkit batu bara, apalagi kita tahu ada proyek 35 ribu MW dan sudah masuk ke sistem PLN kami. Namum kami tetap berkomitmen mengejar target 23% EBT di 2025," tuturnya kepada Komisi VII DPR RI, Rabu (25/11/2020).

Dia mengakui, masih mendominasinya pembangkit berbahan bakar fosil ini karena mengalami pertumbuhan pesat dari 2000. Dia mengatakan, sejak 2000-2019, pertumbuhan pembangkit listrik berbahan bakar energi fosil tumbuh rata-rata 6,6% per tahun. Namun pada 2020-2029 akan ditekan menjadi 3,6% per tahun.

Sedangkan untuk pembangkit listrik EBT pada 2020-2029 ditargetkan meningkat menjadi 12,7% per tahun dari sebelumnya 7,1% per tahun.

Adapun porsi pembangkit listrik berbahan bakar EBT hingga November 2020 baru mencapai 12,6% atau 7.992 MW. Terbesar berasal dari kontribusi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 7,5% atau 4.707 MW, lalu pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 3,9% atau 2.131 MW, pembangkit listrik tenaga mini/mikro hydro sekitar 0,7% atau 454 MW, pembangkit listrik tenaga bio/sampah 0,3% atau 179 MW, pembangkit listrik tenaga angin/ bayu (PLTB) 0,2% atau 131 MW, dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 0,1% atau 79 MW.

Menurutnya, pihaknya akan mendorong peningkatan bauran EBT dengan mengganti PLTD terutama di daerah Indonesia Timur seperti di Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara menjadi pembangkit listrik berbahan bakar energi baru terbarukan.

"Ada 210 lokasi dengan potensi 2 giga watt (GW) yang menggunakan diesel atau PLTD, kita dorong dengan pembangkit EBT," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading