Newsletter

Semua Mata Tertuju ke BI, Adakah Kejutan Suku Bunga Acuan?

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
19 November 2020 06:34
Gedung BI Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Luthfi Rahman

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa nasional bergerak variatif pada perdagangan Rabu (18/11/2020) di mana bursa saham dan obligasi menguat, tetapi rupiah melemah. Hari ini, bursa bakal terkoreksi jika tak ada kejutan positif dari kebijakan suku bunga acuan moneter.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,5% atau 27,58 poin di level 5.557,51 berbarengan dengan mayoritas bursa utama Asia yang ditutup menguat. Hanya indeks Nikkei Jepang yang melemah (-1,1%), sedangkan sisanya menguat seperti indeks Hang Seng di Hong Kong yang naik 0,49%, Straits Times Index (STI) Singapura tumbuh 0,29%, KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,26% dan Shanghai Composite China bertambah 0,22%.


Para pemodal di bursa nasional cukup mawas untuk melihat bahwa koreksi yang menimpa bursa Amerika Serikat (AS) kemarin tidak mesti diikuti di Indonesia, sehingga tidak terjadi aksi ambil untung masif.

Saham-saham unggulan yang memiliki kabar bagus dikoleksi seperti misalnya PT Bank Central Asia Tbk di mana asing mencetak beli bersih sebesar Rp 307 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net buy sebesar Rp 194 miliar.

Demikian juga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Timah Tbk (TINS) yang menguat masing-masing sebesar 4,2% dan 7% ke Rp 1.240 dan Rp 1.140 per saham. Kenaikan terjadi setelah pemerintah menyatakan bahwa keduanya akan bekerja-sama dengan LG Chem Ltd untuk membangun holding 'Indonesian Battery.'

Data perdagangan mencatat investor asing secara total mencetak beli bersih (net buy) Rp 475 miliar di pasar reguler. Nilai transaksi total di bursa mencapai Rp 12,2 triliun dengan 232 saham naik, 210 lain terkoreksi, dan 175 stagnan.

Mayoritas harga Surat Berharga Negara (SBN) juga menguat, kecuali SBN tenor 1 tahun. Hampir semua SBN mengalami pelemahan imbal hasil (yield), kecuali untuk SBN tenor 1 tahun yang naik 7,1 basis poin ke level 4,001%.

Yield SBN tenor 10 tahun yang merupakan acuan obligasi negara turun 2,6 basis poin ke level 6,181% atau melanjutkan penurunan kemarin. ni menunjukkan bahwa harga sedang menguat, karena keduanya bergerak berlawanan. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Sebaliknya, nilai tukar rupiah melemah 0,14% ke Rp 14.050/US$ di penutupan perdagangan, menghentikan penguatan yang dibukukan dalam 2 hari sebelumnya. Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,07% ke Rp 14.020/US$. Namun tidak lama, rupiah masuk ke zona merah, melemah hingga 0,32% ke Rp 14.075/US$.

Pelemahan tersebut mengindikasikan para trader memilih merealisasikan keuntungan terlebih dahulu, sembari menanti kebijakan suku bung acuan yang bakal diumumkan hari ini.

Meski demikian, rupiah bukanlah yang terburuk di antara mata uang Asia yang mayoritas menguat melawan dolar AS. Hingga pukul 15:07 WIB kemarin, baht menjadi yang terburuk dengan pelemahan 0,43%, sementara ringgit yang terbaik dengan penguatan 0,49%

Wall Street Berayun dari Zona Hjiau ke Zona Merah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading