Dolar AS Gak 'Tahan Lama', Harga Emas Siap Terbang Lagi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 October 2020 17:47
Many bundles of US dollars bank notes

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) sedang perkasa Kamis kemarin setelah merosot sejak awal pekan, tetapi nyatanya keperkasaan tersebut tidak bertahan lama. Pada hari ini, Jumat (23/10/2020), dolar AS kembali loyo. 

Maju mundurnya stimulus fiskal di Amerika Serikat (AS) mempengaruhi berbagi aset investasi, mulai dari saham, mata uang, hingga logam mulia. Sempat muncul harapan akan cairnya stimulus tersebut di pekan ini, sontak mayoritas bursa saham global menguat, disusul dengan kenaikan emas. Dolar Amerika Serikat (AS) menjadi terpuruk, dan mata uang lainnya menguat.

Perundingan antara Nancy Pelosi, Ketua DPR (House of Representatif) Amerika Serikat (AS) dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin yang membahas stimulus tersebut mulai berlangsung sejak awal pekan lalu.


Selasa lalu waktu AS, Pelosi mengatakan setelah berbicara dengan Mnuchin dia berharap kesepakatan stimulus corona dapat dicapai pada akhir pekan ini.

Di hari yang sama, hal senada juga ditegaskan Kepala staf Gedung Putih Mark Meadows, yang mengatakan Pelosi dan Mnuchin akan melanjutkan perundingan di hari Rabu, dan berharap melihat adanya beberapa kesepakatan sebelum akhir pekan.

Stimulus fiskal (seandainya cair) akan menambah jumlah mata uang beredar di perekonomian, yang diharapkan mampu memutar roda perekonomian. Alhasil, sentimen pelaku pasar membaik, dan kembali masuk ke aset-aset berisiko seperti saham. Dolar AS yang menyandang status safe haven menjadi tak menarik.

Di sisi lain, bertambahnya jumlah uang beredar secara teori membuat nilai tukar dolar AS melemah. Artinya the greenback mendapat dua pukulan, dari sentimen pelaku pasar yang membaik dan dari jumlah uang yang beredar.

Aset lainnya, emas, justru mendapat 2 keuntungan dari pelemahan dolar AS serta potensi kenaikan inflasi.

Dolar AS dan emas memiliki korelasi negatif, artinya ketika dolar AS turun maka emas cenderung naik. Hal itu terjadi karena emas dibanderol dengan dolar AS, ketika the greenback melemah, harga emas akan lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, dan permintaan berpotensi meningkat.

Kemudian yang kedua, bertambahnya jumlah uang bereda berisiko memicu inflasi. Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, sehingga akan diburu oleh pelaku pasar.

Kabar terbaru, stimulus di AS kemungkinan tidak cair hingga pemilu presiden (pilpres) di AS pada 3 November mendatang. Alhasil arah pergerakan aset-aset tersebut berubah, bursa saham masih bergerak turun naik, tetapi dolar AS melesat naik dan emas berbalik turun kemarin. 

Pelosi memberikan sinyal adanya kemajuan perundingan stimulus fiskal kemarin.

"Jika tidak ada kemajuan, saya tidak akan menghabiskan detik sekalipun di dalam perundingan ini. Ini adalah usaha yang serius. Saya percaya kami semua ingin mencapai kesepakatan," kata Pelosi sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (22/10/2020).

Meski demikian Pelosi juga memberikan indikasi stimulus kemungkinan belum akan cair sebelum pemilihan presiden 3 November mendatang. Ia mengatakan butuh waktu untuk menyelesaikan dan menandatangani undang-undang stimulus fiskal, artinya harapan akan cairnya stimulus di pekan ini meredup.

Outlook Dolar AS Suram, Emas Cemerlang
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading