Grup Lippo Bakal Jual LINK, Saham First Media Auto Reject!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
06 October 2020 12:08
Dok Link Net

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten media dan tv kabel milik Grup Lippo yakni PT First Media Tbk (KBLV) langsung melesat menyentuh batas atas penolakan sistem perdagangan bursa atau auto reject atas (ARA) sebesar 25% di tengah rencana Grup Lippo melepas seluruh sahamnya di anak usaha First Media, PT Link Net Tbk (LINK).

Data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pada sesi I, saham KBLV melesat 25% sentuh ARA di level Rp 430/saham. Batasan ARA 25% khusus berlaku untuk harga saham rentang Rp 200-Rp 5.000/saham di BEI.

Saham KBLV diperdagangkan senilai 127,76 juta dengan nilai transaksi 308.600 saham, dengan kapitalisasi pasar Rp 749 miliar. Dalam sepekan terakhir perdagangan akumulatif, saham KBLV ini melesat 48% dan year to date naik 57%.


Adapun saham anak usahanya yakni Link Net, justru minus 3,33% setelah kemarin meroket 19.40% ke level Rp 2.400. Sesi I hari ini, saham LINK turun 3,33% di level Rp 2.320/saham dengan nilai transaksi Rp 50,75 miliar dan volume perdagangan 21,38 juta saham.

Sepekan terakhir perdagangan saham LINK naik 21,12% dan year to date minus 41%.

Manajemen LINK kemarin mengungkapkan bahwa Grup Lippo melalui First Media dan perusahaan private equity global CVC Capital Partners via Asia Link Dewa Pte akan melepas seluruh kepemilikan saham di perusahaan penyedia tv kabel, LINK dan berpotensi meraih dana lebih dari Rp 4 triliun.

Sebanyak empat investor sudah dalam proses uji tuntas (due dilligence) untuk mengakuisisi mayoritas saham LINK. Empat investor tersebut berasal dari dua perusahaan Malaysia dan dua perusahaan Jepang.

"Cuma saya gak bisa sebut nama Pak karena terkait dengan NDA [non disclosure agreement]," kata Marlo Budiman, CEO dan Presdir LINK, dihubungi CNBC Indonesia, Senin (5/10/2020).

Aksi ini melanjutkan divestasi Grup Lippo yang sebelumnya batal terlaksana dengan PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) milik Grup MNC.

Hingga 31 Agustus 2020, pemegang saham LINK yakni CVC lewat Asia Link Dewa sebesar 35,55% (1.017.766.198 saham), First Media 27,90% (798.699.286 saham), UBS AGLDN Branch-UBS AG London 6,41%, dan investor publik 26,24%. Masih ada saham treasury LINK yakni 3,90%.

"Saham CVC di LINK sebanyak 35,55 persen pak. Ini mau dijual semua. Saham First Media 27,90 persen, ini juga mau dijual semua. Jadi total 35,55 persen ditambah 27,90 persen menjadi 63,45 persen," jelasnya.

Dengan demikian, jika sudah disepakati harga, dan akuisisi dilakukan, maka nantinya akan ada perubahan pemegang saham pengendali dengan total porsi saham yang akan dipegang investor baru 1.816.465.484 saham atau 63,45%.

Jika memakai asumsi harga rata-rata saham LINK pada perdagangan Senin kemarin, di level Rp 2.235/saham, maka nilai divestasi itu berpotensi senilai Rp 4,06 triliun.

Jangan lupa, Grup Lippo akan menjual saham LINK di harga premium, di mana saham LINK pernah mencapai level Rp 4.400/saham.

Jadi nilai akuisisi bisa saja lebih dari Rp 4 triliun, dengan asumsi memakai harga tertinggi Rp 4.400 tadi maka nilai divestasi mencapai Rp 7,99 triliun.

"Ini sebenarnya baik CVC dan Lippo mau menjual saham Link Net di harga premium di saat, kondisi yang lebih baik, sehingga notabene ini profit taking dari kedua pemegang saham," jelasnya tanpa menyebutkan harga.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading