Diam-diam Grup Lippo Mau Jual LINK, Bakal Raih Rp4 T Lebih!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
05 October 2020 14:58
Dok Link Net

Jakarta, CNBC Indonesia - Grup Lippo melalui PT First Media Tbk (KBLV) dan perusahaan private equity global CVC Capital Partners via Asia Link Dewa Pte akan melepas seluruh kepemilikan saham di perusahaan penyedia tv kabel, PT Link Net Tbk (LINK) dan berpotensi meraih dana lebih dari Rp 4 triliun.

Sebanyak empat investor sudah dalam proses uji tuntas (due dilligence) untuk mengakuisisi mayoritas saham LINK. Empat investor tersebut berasal dari dua perusahaan Malaysia dan dua perusahaan Jepang.

"Cuma saya gak bisa sebut nama Pak karena terkait dengan NDA [non disclosure agreement]," kata Marlo Budiman, CEO dan Presdir LINK, dihubungi CNBC Indonesia, Senin (5/10/2020).


Aksi ini melanjutkan divestasi Grup Lippo yang sebelumnya batal terlaksana dengan PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) milik Grup MNC.

Hingga 31 Agustus 2020, pemegang saham LINK yakni CVC lewat Asia Link Dewa sebesar 35,55% (1.017.766.198 saham), First Media 27,90% (798.699.286 saham), UBS AGLDN Branch-UBS AG London 6,41%, dan investor publik 26,24%. Masih ada saham treasury LINK yakni 3,90%.

"Saham CVC di LINK sebanyak 35,55 persen pak. Ini mau dijual semua. Saham First Media 27,90 persen, ini juga mau dijual semua. Jadi total 35,55 persen ditambah 27,90 persen menjadi 63,45 persen," jelasnya.

Dengan demikian, jika sudah disepakati harga, dan akuisisi dilakukan, maka nantinya akan ada perubahan pemegang saham pengendali dengan total porsi saham yang akan dipegang investor baru 1.816.465.484 saham atau 63,45%.

Jika memakai asumsi harga rata-rata saham LINK pada perdagangan Senin ini (5/10/2020), di level Rp 2.235/saham, maka nilai divestasi itu berpotensi senilai Rp 4,06 triliun.

Jangan lupa, Grup Lippo akan menjual saham LINK di harga premium, di mana saham LINK pernah mencapai level Rp 4.400/saham.

Jadi nilai akuisisi bisa saja lebih dari Rp 4 triliun, dengan asumsi memakai harga tertinggi Rp 4.400 tadi maka nilai divestasi mencapai Rp 7,99 triliun.

"Ini sebenarnya baik CVC dan Lippo mau menjual saham Link Net di harga premium di saat, kondisi yang lebih baik, sehingga notabene ini profit taking dari kedua pemegang saham," jelasnya tanpa menyebutkan harga.

Kabar pasar juga menyebutkan bahwa salah satu investor tersebut adalah PT XL Axiata Tbk (EXCL), emiten telekomunikasi yang disokong Axiata Berhad asal Malaysia. Namun Marlo menegaskan informasi nama belum bisa disebutkan.

"Saya gak bisa comment Pak, untuk harga yang cocok. Karena itu domain-nya di shareholders level," katanya.

Terkait dengan masuknya EXCL, CNBC Indonesia sudah mencoba mengonfirmasi kepada Sekretaris Perusahaan XL Axiata, Tri Wahyuningsih, tapi belum ada informasi lanjutan.

Marlo menegaskan, para investor tersebut cocok untuk menjadi pemegang saham Link Net.

"Tapi menurut saya, ke empat nya adalah investor yang cocok untuk Link Net. Ada dua strategic investors yg bergerak di bidang yang sama dengan LINK. Dan ada dua yang merupakan long-term financial investors yang memiliki fund and global operation yang besar," jelasnya.

"Target selesainya semoga bisa akhir tahun 2020," katanya lagi.

Grup Lippo adalah salah satu grup bisnis sukses di Tanah Air yang didirikan oleh Mochtar Riady, pengusaha yang sukses membangun PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ketika bank tersebut masih Grup Salim. Jejaring bisnis Lippo mulai dari properti, ritel, hingga media.

Adapun CVC adalah perusahaan investasi global yang tersebar di 24 kantor di AS, Eropa dan Asia, dengan salah satu basisnya di Luksemburg.

Perusahaan yang didirikan sejak 1981 ini punya asset under management (AUM) atau dana kelolaan saat ini mencapai US$ 75 miliar atau sekitar Rp 1.080 triliun, seperti terungkap dalam profil di situs perusahaan. Bahkan ada dana investasi yang dijanjikan mencapai US$ 123 miliar.

Selain di LINK, CVC juga berinvestasi di beberapa emiten lain di Bursa Efek Indonesia yakni PT Soho Global Health Tb (SOHO), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD). PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), dan PT Softex Indonesia.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading