Malaysia Kisruh Politik, Harga CPO Menukik Tajam

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
24 September 2020 11:08
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (CPO) Negeri Jiran ambrol lagi hari ini Kamis (24/9/2020). Adanya aksi ambil untung dan banyaknya sentimen negatif yang bertebaran membuat harga komoditas unggulan RI & Malaysia ini tertekan.

Pada 10.15 WIB, harga CPO untuk kontrak pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatif Exchange anjlok 1,96% ke RM 2.805/ton. Harga CPO telah ambles 8,9% dari level tertingginya yang dicapai pekan lalu.


"Harga minyak sawit diperdagangkan lebih rendah karena aksi ambil untung yang tak terelakkan dari reli baru-baru ini dan ini harus dilihat sebagai penyesuaian untuk spreadnya di atas minyak dan minyak gas pesaing," kata Anilkumar Bagani, kepala riset Sunvin Group, sebuah sayuran yang berbasis di Mumbai, mengutip Reuters.

Perkiraan dari Malaysian Palm Oil Association menunjukkan produksi untuk 20 hari pertama September naik 5% dari bulan sebelumnya juga menekan harga.

"Output Indonesia diperkirakan meningkat 20% pada bulan September," kata Paramalingam Supramaniam, direktur pialang Pelindung Bestari Sdn Bhd yang berbasis di Selangor.

Di saat yang sama, permintaan India terlihat meningkat karena kedatangan impor minyak bunga matahari yang turun tajam bulan ini karena harga yang lebih tinggi jelang perayaan festival Diwali yang bakal meningkatkan konsumsi.

Harga minyak nabati lain yang terpangkas juga ikut menekan harga CPO. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Komoditas Dalian turun 3,65%, sedangkan kontrak minyak sawitnya turun 4,2%. 

Menambah sentimen negatif adalah anjloknya pasar keuangan dan komoditas global seperti minyak semalam serta kondisi perpolitikan Negeri Jiran yang penuh dengan intrik.

Drama politik Malaysia memasuki babak baru. Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim mengatakan pemerintahan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin telah jatuh.

Dirinya mengklaim sudah mengantongi suara mayoritas di Parlemen untuk membentuk pemerintahan. Audiensi bahkan akan dilakukan dengan Raja Malaysia, Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah, untuk pengesahan.

Klaim itu muncul kurang dari tujuh bulan setelah Muhyiddin berkuasa. Muhyiddin menjadi PM setelah kekacauan politik yang menyebabkan runtuhnya pemerintahan Mahathir Mohamad.

Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin memberikan konfirmasi secara resmi bahwa dirinya masih pemimpin pemerintahan yang sah. Klaim oposisi Anwar Ibrahim, ujarnya, masih harus dibuktikan dengan metode Konstitusi Federal.

Dikutip dari media lokal Malaysia Kini, Sekretaris Utama Pakatan Harapan, koalisi partai terbesar di parlemen, mengatakan Perdana Menteri Muhyiddin Yasin sudah kehilangan suara mayoritas. Ini karena banyak anggota dari Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (Umno) dan Barisan Nasional (BN) memberi suara ke Anwar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading