Review Sepekan

Harga CPO Terbang Pekan Ini, Ditiup PM Anwar Ibrahim?

Market - mae, CNBC Indonesia
27 November 2022 11:30
Pekerja memuat tandan buah segar kelapa sawit untuk diangkut dari tempat pengumpul ke pabrik CPO di Pekanbaru, provinsi Riau, Indonesia, Rabu (27/4/2022). (REUTERS/Willy Kurniawan) Foto: Pekerja memuat tandan buah segar kelapa sawit untuk diangkut dari tempat pengumpul ke pabrik CPO di Pekanbaru, provinsi Riau, Indonesia, Rabu (27/4/2022). (REUTERS/Willy Kurniawan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) melonjak pada pekan ini setelah ekspor CPO Malaysia dilaporkan meningkat. Penguatan harga CPO juga terbilang luar biasa mengingat banyaknya sentimen negatif, terutama penguatan ringgit Malaysia setelah terpilihnya Anwar Ibrahim sebagai Perdana Menteri (PM) Malaysia.

Pada perdagangan Jumat (25/11), harga CPO ditutup menguat 2,48% menjadi MYR 4.140/ton. Penguatan tersebut berbanding terbalik dengan penutupan pada Kamis di mana CPO amblas 1,58%.

Dalam sepekan, harga CPO melejit 7,35% secara point to point sementara dalam sebulan menguat 0,31%. Penguatan pada pekan ini menjadi angin segar karena CPO ambles 7% pada dua pekan lalu.


Ekspor CPO Malaysia pada 1-25 November 2022 naik 4,7% menjadi 1,20 juta ton. Kenaikan ekspor ini memberi harapan akan masih tingginya permintaan CPO di pasar global.
"Adanya proyeksi penurunan produksi CPO  juga menopang harga," tutur trader David Ng kepada Bernama.

Menguatnya CPO pada pekan ini terbilang luar biasa mengingat banyaknya sentimen negatif yang membayangi pergerakan CPO mulai dari anjloknya harga minyak mentah dan nabati hingga penguatan ringgit Malaysia.

Dalam sepekan minyak mentah Brent ambles 4,6% sedangkan WTI  anjlok 4,7%. Minyak nabati lain seperti rapeseed oil dan minyak bijih matahari juga melandai.
Kendati demikian, harga
minyak kedelai juga menguat 0,56% sepekan.

Ringgit Malaysia juga menguat tajam dalam sepekan terakhir. Ringgit Malaysia menguat tajam 1,6% pada pekan ini.

Pada Kamis (24/11/2022), ringgit Malaysia bahkan menguat 1,79% di hadapan si greenback pada Kamis (24/11) dan menjadi kenaikan terbesar harian sejak Maret 2016. Hal tersebut terjadi setelah Anwar Ibrahim diangkat sebagai Perdana Menteri dan mengakhiri krisis pemilu selama lima hari yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Penguatan ringgit Malaysia membuat harga CPO makin mahal sehingga membebani pembeli. Analis memperkirakan harga CPO bisa kembali tertekan jika ringgit Malaysia terus menguat.

Lonjakan kasus Covid-19 di China juga menjadi kekhawatiran baru di pasar CPO. China adalah salah satu importir terbesar CPO di dunia sehingga lonjakan kasus Covid-19 bisa menurunkan permintaan impor.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

CPO Berupaya Menguat di Tengah Wacana B40 & Pencabutan DMO RI


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading