Kebijakan The Fed "Antiklimaks", Rupiah Bisa Diuntungkan Lho!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 September 2020 15:07
FILE - In this Nov. 25, 2019, file photo Federal Reserve Board Chair Jerome Powell addresses a round table discussion during a visit to Silver Lane Elementary School, in East Hartford, Conn. On Wednesday, Dec. 11, the Federal Reserve issues a statement and economic projections, followed by a news conference with Powell. (AP Photo/Steven Senne) Foto: Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, Jerome Powell (AP Photo/Steven Senne)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) mengumumkan kebijakan moneter Kamis (17/9/2020) dini hari waktu Indonesia.

Bisa dikatakan, pengumuman tersebut menjadi "antiklimaks" dari rentetan kebijakan moneter yang dilakukan sepanjang tahun ini, merespon kemerosotan ekonomi akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Pada acara simposium Jackson Hole akhir Agustus lalu, bos The Fed, Jerome Powell, mengubah pendekatannya terhadap target inflasi. Sebelumnya The Fed menetapkan target inflasi sebesar 2%, ketika sudah mendekatinya maka bank sentral paling powerful di dunia ini akan menormalisasi suku bunganya, alias mulai menaikkan suku bunga.


Kini The Fed menerapkan "target inflasi rata-rata" yang artinya The Fed akan membiarkan inflasi naik lebih tinggi di atas 2% "secara moderat" dalam "beberapa waktu", selama rata-ratanya masih 2%.

Dengan "target inflasi rata-rata" Powell mengatakan suku bunga rendah bisa ditahan lebih lama lagi.

Kebijakan tersebut kemungkinan menjadi "pamungkas" bagi The Fed, sebab pada saat pengumuman dini hari tadi, The Fed tidak memberikan perubahan apapun, malah menunjukkan sikap optimistis perekonomian AS akan segera pulih dari resesi.

Suku bunga tetap sebesar <0,25%, sementara nilai pembelian aset (quantitative easing/QE) tidak akan ditingkatkan. Untuk diketahui, QE The Fed saat ini nilainya tak terbatas, artinya berapapun akan digelontorkan guna memacu perekonomian.

Kebijakan QE tanpa batas tersebut membuat pasar tidak tahun pasti berapa nilai QE yang digelontorkan The Fed per bulannya.

Nilai QE yang digelontorkan The Fed bisa terlihat dari Balance Sheet yang dimiliki. Semakin banyak aset (obligasi dan surat berharga lainnya) yang dibeli, maka nilai Balance Sheet akan semakin besar.

Data dari Federal Reserve menunjukkan hingga 8 September lalu, total Balance Sheet The Fed sebesar US$ 7,01 triliun, tetapi laju kenaikannya landai, bahkan sudah lebih rendah ketimbang bulan Juni lalu yang mencapai US$ 7,168 triliun.

Balance Sheet The Fed mengalami lonjakan signifikan pada periode Maret yang masih di kisaran US$ 4,3 triliun sampai Juni yang lebih dari dari US$ 7 triliun.

Artinya, selepas bulan Juni, pembelian aset The Fed tidak sebesar bulan-bulan sebelumnya, dan kemungkinan ke depannya juga tidak besar lagi.

The Fed Optimistis Ekonomi AS Bangkit, Dolar Ngamuk
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading