Lelah Terkapar 3 Hari Beruntun, Wall Street Bangkit

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
10 September 2020 07:30
Smartsheet Inc. President and CEO Mark Mader rings a ceremonial bell to celebrate his company's IPO on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., April 27, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup naik pada perdagangan Rabu (9/9/2020), menghentikan penurunan yang sudah terjadi selama tiga hari berturut-turut.

Indeks Komposit Nasdaq yang diisi oleh perusahaan-perusahaan teknologi, ditutup di 11.141,56 setelah naik 2,7%. Dalam tiga hari terakhir, Nasdaq telah turun 10%.

Dow Jones Industrial Average juga naik 1,6% menjadi 27.940,47, sedangkan S&P 500 melonjak 2% menjadi 3.398,96.


Penurunan tiga hari terakhir terjadi karena banyaknya aksi ambil untung di pasar, akibat investor khawatir melihat kenaikan yang tak terkendali dalam harga saham perusahaan teknologi besar seperti Apple dan Amazon.

Tetapi Gregori Volokhine, manajer portofolio di Meeschaert Financial Services, mengatakan aksi tersebut membawa dampak yang signifikan di pasar.

"Anda tidak dapat menempatkan semua perusahaan dalam keranjang yang sama," kata Volokhine, mengutip AFP.

"Tapi Anda tidak bisa mengatakan keuntungan perusahaan seperti Apple dan Microsoft benar-benar kehilangan kaitannya dengan kenyataan," tambahnya.

Meski naik, saham-saham di Wall Street hanya mencatatkan kenaikan terbatas karena masih dibayangi sentimen buruk dari masalah dana bantuan AS untuk warga yang terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, meningkatnya ketegangan antara AS dengan China juga turut menjadi penghambat kenaikan.

Pada Rabu, pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan telah mencabut visa untuk lebih dari 1.000 warga negara China, mengikuti aturan presiden pada 29 Mei. Penangguhan masuk para pelajar dan peneliti itu diambil dengan alasan membahayakan keamanan, kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri, Rabu.

Penjabat kepala Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, Chad Wolf, mengatakan keputusan diambil demi mencegah mahasiswa pascasarjana dan peneliti China yang terkait dengan strategi fusi militer China untuk melakukan pencurian dan penelitian sensitif.

Keputusan itu juga diambil dengan alasan praktik bisnis yang tidak adil dan spionase industri yang dilakukan China, dan upaya untuk mencuri penelitian virus corona oleh China serta menyalahgunakan visa pelajar untuk mengeksploitasi akademisi AS, katanya.

"Amerika Serikat juga mencegah barang-barang yang diproduksi dari tenaga kerja budak memasuki pasar kami, menuntut agar China menghormati martabat yang melekat pada setiap manusia," jelasnya, merujuk pada dugaan kekerasan terhadap Muslim Uighur di wilayah Xinjiang, China.


[Gambas:Video CNBC]

(res/res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading