Features

Cerita Duit Rp2 T & Jejaring Bisnis Crazy Rich Prawirawidjaja

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
24 August 2020 07:25
Sabana Prawirawidjaja/Dok.Ultrajaya

Nama Sabana Prawirawidjaja mencuri perhatian pelaku pasar dalam sepekan terakhir usai transaksi jumbo yang dilakukannya di saham perusahaannya sendiri, PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), produsen susu Ultramilk, Teh Kotak, Sari Kacang Ijo, dan Sari Asem Asli ini.

Kamis 13 Agustus, memang ada transaksi harian yang gede banget di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilainya mencapai Rp 10,6 triliun, di atas hari-hari biasanya yang paling banter sekitar Rp 6-8 triliun.

Ternyata tingginya jumlah transaksi tersebut disokong oleh transaksi gede di pasar negosiasi (satu dari tiga pasar di BEI selain pasar reguler dan pasar tunai) atas saham ULTJ.


PT Shinhan Sekuritas, perusahaan efek berkode broker AH, melakukan pembelian saham ULTJ lewat pasar negosiasi sebanyak 13 juta lot (1,3 miliar saham) di harga Rp 1.600/saham dengan nilai transaksi menembus Rp 2,1 triliun. Pembelian AH ini dilakukan dari broker penjual yakni PT Net Sekuritas (OK).

Awalnya belum terungkap siapa investor pembeli lewat broker AH. Namun data pemegang saham di atas 5% yang dipublikasikan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 14 Agustus menunjukkan, Sabana Prawirawidjaja yang memborong 1,3 miliar saham ULTJ (lewat pasar nego).

Sabana adalah generasi kedua, atau anak dari Ahmad Prawirawidjaja, pendiri dan pemilik perusahaan Ultrajaya.

Namun, belum diketahui secara pasti pihak counterparty alias sang penjual saham ULTJ kendati beredar di kalangan para pelaku pasar bahwa penjualan itu kembali dilakukan oleh perusahaan asuransi jiwa dan dana pensiun (dapen) Grup Salim yakni PT Indolife Pensiontama.

Faktanya, data kepemilikan saham di atas 5% atas satu emiten yang dipublikasikan KSEI per 19 Agustus menunjukkan, memang tak ada lagi kepemilikan di atas 5% dari Indolife di ULTJ. Ada kemungkinan Indolife melepas mayoritas kepemilikannya sehingga porsinya di bawah 5% dan tidak tercatat dalam data KSEI lagi.

Sebelumnya Indolife memang getol melepas sebagian kepemilikan saham ULTJ yakni sebanyak 66 juta saham. Berdasarkan data laporan pemegang di BEI, porsi Indolife sebelumnya 15,06% atau setara dengan 1.740.284.200 saham ULTJ. Namun akhir Maret 2020, nilainya berkurang sehingga menjadi 14,49% (1.674.284.200) atau berkurang 66 juta saham alias minus 0,57%.

Situs resmi mencatat Indolife Pensiontama merupakan perusahaan yang bergerak di bidang asuransi jiwa dan dapen, dan memulai bisnisnya pada 1991. Perusahaan yang juga memiliki DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) Indolife ini masuk sebagai anggota kelompok usaha Salim Grup.

Padahal di akhir tahun lalu, Indolife masih memegang 1.731.034.000 saham atau 14,98% saham ULTJ. Dengan asumsi harga saham ULTJ pada akhir Desember Rp 1.680, maka nilai kepemilikan Indolife di ULTJ mencapai Rp 2,91 triliun.

Mengacu data KSEI per 19 Agustus tersebut, Indolife hanya tercatat memegang saham beberapa emiten dengan porsi di atas 5%. Deretan emiten tersebut yakni PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) sebanyak 21,47% (1.214.051.129), emiten suku cadang PT Nipress Tbk (NIPS) 7,59% (124.057.589), emiten pemilik Bali United, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) 5,39% (323.168.000), GDWU 5,66% (14.263.940), dan PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) 17.58% (26.578.300).

Sementara itu, GDWU tak tercatat di daftar emiten BEI. Nama ini mengacu pada PT Kasogi International Tbk (GDWU), yang sudah dihapus atau delisting dari papan perdagangan BEI pada 24 Maret 2006.

Pemegang Saham ULTJ per Juni 2020:

Pemegang Saham ULTJ Juni 2020

%

Jumlah Saham

Sabana Prawirawidjaja

32,12

3.710.786.200

PT Prawirawidjaja Prakarsa

21,40

2.472.304.260

PT Indolife Pensiontama

14,19

1.639.803.200

Samudera Prawiradijaja

3,25

375.000.000

Suhendra Prawirawidjaja

0,95

109.848.160

Investor Publik

28,09

3.245.786.180

Sumber: BEI

Dengan pembelian Sabana mencapai 1,3 miliar ULTJ senilai Rp 2,1 triliun, maka porsi saham menjadi 18,10% atau sebanyak 2.091.675.200 saham.

Kalau dihitung dengan asumsi harga saham ULTJ pada perdagangan 19 Agustus Rp 1.650/saham, maka nilai saham Sabana di Ultrajaya mencapai Rp 3,45 triliun. Sepekan terakhir saham ULTJ hanya menguat 2,48%.

Porsi ini belum dihitung dengan bagian Sabana di PT Prawirawidjaja Prakarsa, salah satu pemegang saham ULTJ. Saham Prawirawidjaja Prakarsa, mengacu data lapkeu ULTJ per 2019, dimiliki oleh Sabana (75%), Supiandi Prawirawidjaja (12,5%), dan Samudera Prawirawidjaja (12,5%). Sabana dan Supiandi adalah kakak-beradik pendiri perusahaan.

Pemegang Saham ULTJ 2019, screenshot lapkeu ULTJFoto: Pemegang Saham ULTJ 2019, screenshot lapkeu ULTJ

Tahun lalu, Sabana masih memegang mayoritas saham perusahaan sebesar 3.676.065.300 saham atau 31,82% dengan asumsi nilainya mencapai Rp 6,18 triliun, dengan asumsi harga saham ULTJ Rp 1.680/saham di 30 Desember 2019. 

Meski membeli saham ULTJ Rp 2,1 triliun tersebut, tapi secara total hingga 19 Agustus, Sabana sebetulnya sudah menjual 1.584.390.100 saham perusahaan, dengan nilai mencapai Rp 2,61 triliun bila memakai asumsi harga saham Rp 1.650/saham.

Siapa Sebenarnya Keluarga Prawirawidjaja?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading