Review Emas

Harga Emas Melesat 10% Lebih di Juli, Rekor Terbaik 8 Tahun!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
04 August 2020 15:55
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia melesat tajam di bulan Juli, hingga memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa. Kinerja emas di bulan Juli juga merupakan yang terbaik dalam 8 tahun terakhir atau sewindu.

Resesi di berbagai negara akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) menjadi pemicu berkilaunya logam mulia.

Berdasarkan data Refinitiv, sepanjang bulan Juli lalu emas melesat 10,9%, menjadi kenaikan terbesar sejak Januari 2012 ketika menguat 11,21%.


Rekor tertinggi harga emas dunia sebelumnya US$ 1.920,3/troy ons dicapai pada 6 September 2011 akhirnya berhasil di pecahkan di awal pekan ini kemarin, nyaris satu dekade lamanya. Di hari Senin (27/7/2020) Harga emas dunia melesat menyentuh US$ 1.945,16/troy ons, rekor tertinggi baru saat itu, tetapi umurnya kurang dari 24 jam.

Selasa (28/7/2020) pagi harga emas emas dunia terbang tinggi menyentuh US$ 1.980,56/troy ons menjadi rekor tertinggi yang bertahan nyaris sepekan. Senin kemarin saat emas melesat lagi ke US$ 1.984,65/troy ons, yang kini menjadi rekor tertinggi sepanjang masa.

Resesi akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) kini sudah terjadi di 3 benua. Dari Asia, Jepang, Singapura dan Hong Kong sudah sah resesi, sementara Korea Selatan mengalami resesi teknikal.

Dari Eropa, zona euro juga masuk ke jurang resesi, negara-negara besarnya bahkan berguguran. Jerman, Spanyol dan Italia resesi, sementara Prancis mengalami resesi teknikal.

Suatu negara dikatakan mengalami resesi jika produk domestic bruto (PDB) minus 2 kuartal beruntun secara tahunan atau year-on-year, sementara jika secara kuartalan atau quarter-to-quarter (QtQ) dikatakan sebagai resesi teknikal.

Dari Benua Biru beralih ke Benua Amerika, Negeri Adidaya Amerika Serikat mengalami PDB minus terdalam sepanjang sejarah.

PDB di kuartal II-2020 dilaporkan minus 32,9%, sementara di kuartal I-2020, perekonomiannya mengalami kontraksi 5%, sehingga sah mengalami resesi.

Bukan kali ini saja AS mengalami resesi, melansir Investopedia, AS sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854. Sementara jika dilihat sejak tahun 1980, Negeri Paman Sam mengalami empat kali resesi, termasuk yang terjadi saat krisis finansial global 2008. Artinya, resesi kali ini akan menjadi yang ke-34 bagi AS.

Ketika dunia mengalami resesi, pada pelaku pasar mengalihkan investasinya ke aset aman (safe haven) seperti emas, yang membuat harga logam mulia ini terus melesat naik.

Selain resesi, faktor lain yang menjadi "bahan bakar" emas untuk terus menguat yakni kebijakan moneter ultra longgar dari bank sentral di berbagai negara serta kebijakan tidak biasa (unconventional) pembelian aset atau yang dikenal dengan istilah quantitative easing serta stimulus fiskal pemerintah yang membuat perekonomian banjir likuiditas.

Tetapi, penyebab utama emas melesat ke rekor tertinggi di bulan Juli adalah ambrolnya indeks dolar AS ke level terendah 2 tahun. 

Memasuki kuartal II-2020, banyak analis yang memprediksi emas akan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, yang paling cepat melihat akan dicapai pada akhir tahun ini. Nyatanya dalam 2 pekan terakhir emas terus ngegas saat dolar AS nyungsep hingga akhirnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Agustus, Emas Bakal Cetak Rekor Tertinggi Lagi?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading