Kemarin Jatuh, Harga CPO Rebound Hari Ini ke Atas RM 2.300

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
01 July 2020 11:27
Kelapa sawit (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Kelapa sawit (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komoditas minyak sawit mentah (CPO) menguat jelang siang ini, Rabu (1/7/2020) usai kemarin jatuh ke bawah RM 2.300/ton. Kenaikan harga minyak mentah menjadi sentimen positif yang mengerek harga komoditas unggulan Negeri Jiran dan RI ini.

Harga minyak mentah menguat ke atas US$ 40/barel untuk jenis acuan global Brent. Pemicunya adalah penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang mencapai 8,2 juta barel pada pekan lalu. 

CPO merupakan salah satu bahan baku pembuatan biodiesel sebagai bahan bakar pengganti minyak. Anjloknya harga minyak membuat penggunaan minyak nabati jenis ini untuk biodiesel menjadi kurang ekonomis. Tentu hal ini akan menyebabkan minat terhadap CPO menjadi berkurang di pasar dan mengerek harganya turun.


Namun kenaikan harga minyak juga turut mendongkrak harga CPO seperti hari ini Rabu. Harga CPO untuk kontrak pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatif kembali menguat ke atas RM 2.300/ton.

Pada 10.27 WIB, harga CPO menguat 27 ringgit atau naik 1% lebih ke level RM 2.324/ton. Harga CPO cenderung terkoreksi sejak 23 Juni lalu dan terus melorot.

Pelaku pasar tengah mencemaskan potensi terjadinya gelombang kedua wabah akibat lonjakan kasus infeksi Covid-19 yang terjadi di banyak daerah. AS yang merupakan negara dengan jumlah kasus terbanyak melaporkan tambahan kasus baru lebih dari 40 ribu dalam sehari. 

Hal tersebut membuat berbagai negara bagian kembali meninjau ulang rencana-rencananya untuk memacu roda perekonomian lebih keras lagi. Lonjakan kasus di Beijing dan Leicester membuat China dan Inggris kembali menerapkan lockdown di kedua kota tersebut. 

Apa yang ditakutkan oleh pelaku pasar adalah dengan lonjakan kasus yang terjadi, ada potensi lockdown diterapkan lagi. Jika lockdown masif kembali digalakkan maka ekonomi bisa makin lumpuh, permintaan menurun termasuk untuk komoditas CPO. 

Faktor lain yang juga dicermati pelaku pasar adalah curah hujan yang tinggi di India bulan Juni lalu. Reuters mengutip keterangan India Meteorological Department (IMD) melaporkan India mengalami kenaikan curah hujan hingga 18% pada bulan Juni lalu. 

Kenaikan curah hujan membuat para petani India mulai menanam berbagai komoditas agrikultur seperti padi, kapas, hingga kedelai. Output pertanian India diperkirakan akan naik. 

India merupakan eksportir terbesar beras dan kapas di dunia. Peningkatan produksi ini jika dibarengi dengan pembukaan ekonomi global serta pemulihan pasca lockdown berpotensi besar untuk mendongkrak ekspor. 

Di sisi lain India yang merupakan importir terbesar minyak nabati memiliki peluang untuk menurunkan impor dengan naiknya produksi produk agrikultur yang bisa menghasilkan minyak nabati seperti kedelai. 

Mengutip Reuters, aktivitas penanaman berbagai biji-bijian yang bisa menghasilkan minyak nabati di India meningkat secara signifikan pada Juni lalu. Kenaikan yang tercatat bahkan mencapai 525% dibanding periode yang sama tahun lalu. 

Kemungkinan impor minyak nabati India yang lebih sedikit jelas bukan kabar yang bagus untuk minyak sawit asal Indonesia maupun Negeri Jiran. 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Saksikan video terkait di bawah ini:

SEA: Pentingnya Mendorong Bisnis UMKM Lewat Digitalisasi


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading