Gegara Vaksin, Investor Cuan di Saham Moderna & AstraZeneca

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
01 July 2020 09:53
A United States flag is reflected in the window of the Nasdaq studio, which displays indices and stocks down, in Times Square, New York, Monday, March 16, 2020. (AP Photo/Seth Wenig) Foto: Studio Nasdaq, yang menampilkan indeks dan stok turun, di Times Square, New York, Senin, 16 Maret 2020. (Foto AP / Seth Wenig)AP/Seth Wenig

Jakarta, CNBC IndonesiaDuo perusahaan farmasi global AstraZeneca Plc dan Moderna Inc menjadi pionir dan mencatatkan progres paling signifikan dalam pengembangan vaksin untuk Covid-19.

Investor pun merespons positif dengan memburu saham emiten farmasi di bursa Wall Street AS ini sejak awal tahun hingga akhir Juni 2020.

Berdasarkan data perdagangan yang dilansir CNBC, saham Moderna berkode MRNA di Bursa Nasdaq AS ditutup naik 3,43% di level US$ 64,21 saham pada perdagangan Selasa tadi malam atau Rabu pagi waktu Indonesia (1/7/2020). Harga saham itu setara dengan Rp 899.000/saham, dengan asumsi kurs Rp 14.000/US$.


Secara tahun berjalan atau year to date, saham MRNA melesat 228,27% dan setahun terakhir sahamnya meroket 338,59% dengan kapitalisasi pasar mencapai US$ 24,9 miliar atau Rp 349 triliun. Harga saham tertinggi Moderna sempat mencapai US$ 87/saham.

Adapun saham AstraZeneca Plc berkode AZN di bursa New York Stock Exchange (NYSE), ditutup minus 0,04% di level US$ 52,89/saham atau Rp 740.000/saham, dengan kapitalisasi pasar US$ 138,8 miliar atau Rp 1.943 triliun.

Secara tahun berjalan (YTD), saham AZN naik 6,08% dan setahun terakhir sahamnya naik 28,13% dengan harga tertinggi sempat US$ 57,44/saham.

Gilead Sciences headquarters are seen on Thursday, April 30, 2020, in Foster City, Calif. White House health advisor Dr. Anthony Fauci said Wednesday, April 29 that data from a coronavirus drug trial testing Gilead Sciences' antiviral drug remdesivir showed Foto: Gilead (AP/Ben Margot)
Gilead Sciences headquarters are seen on Thursday, April 30, 2020, in Foster City, Calif. White House health advisor Dr. Anthony Fauci said Wednesday, April 29 that data from a coronavirus drug trial testing Gilead Sciences' antiviral drug remdesivir showed "quite good news" and sets a new standard of care for COVID-19 patients. (AP Photo/Ben Margot)

Adapun satu perusahaan farmasi lainnya yakni Gilead Sciences Inc (dengan kode GILD) di Bursa Nasdaq juga ditutup naik 3,19% di level US$ 76,94/saham atau Rp 1 juta/saham, dengan kapitalisasi pasar US$ 96,5 miliar atau Rp 1.351 triliun.

Secara year to date saham GILD naik 18,41% dan setahun setahun terakhir naik 13,88% dengan level tertinggi harga saham US$ 85,97/saham.

Gilead memang tak memproduksi vaksin, melainkan obat Covid-19. Pada Senin (29/6/2020), dilansir CNBC, Gilead mengumumkan obat Covid-19 remdesivir akan dijual seharga US$ 3.120 atau Rp 43 juta per pasien untuk pengobatan selama 6 hari. Harga ini dikenakan pada pasien AS yang dibayari oleh asuransi komersial.

Perusahaan mengumumkan rencana penetapan harganya sebagai persiapan untuk mulai menagih obat pada bulan Juli. Gilead juga telah menyumbangkan dosis ke pemerintah AS untuk didistribusikan sejak menerima otorisasi penggunaan darurat pada bulan Mei.

Pembuat obat itu mengatakan akan menjual remdesivir seharga US$ 390 per botol ke pemerintahan "negara-negara maju" di seluruh dunia atau Rp 5,4 juta, dan harga untuk perusahaan asuransi swasta mencapai US$ 520 per botol atau Rp 7,2 juta.

Gilead Sciences adalah perusahaan biofarmasi yang berbasis di Foster City, California, Amerika Serikat (AS) yang meneliti, mengembangkan dan mengkomersialkan obat-obatan. Perusahaan ini berfokus terutama pada obat antivirus yang digunakan dalam pengobatan HIV, hepatitis B, hepatitis C, dan influenza, termasuk dua obat hepatitis C yakni Harvoni dan Sovaldi.

Mengacu situs resminya, perusahaan ini pertama kali tercatat di Bursa Nasdaq, AS, pada Januari 1992 dengan kode saham GILD.

Dua vaksin

Sementara itu, dua emiten farmasi lainnya juga mulai agresif soal vaksin yakni Moderna dan AstraZeneca.

Moderna adalah perusahaan farmasi asal AS dan pertama kali masuk Bursa Nasdaq pada 6 Desember 2018. Saat itu perusahaan langsung mengguncang pasar dengan menawarkan sebanyak 26,3 juta saham dengan harga penawaran perdana (initial public offering/IPO) di level US$ 23/saham.

Dana yang dihimpun melebihi target US$ 600 juta atau Rp 8,9 triliun. Saat itu kapitalisasinya baru US$ 7,5 miliar sebagaimana dikutip biospace.com.

Beberapa investor alias penyandang dana Moderna juga cukup beragam, terutama dari pemerintah AS sendiri. Misalnya pada 16 April 2020, perusahaan mengumumkan tambahan pendanaan dari lembaga pemerintah AS, BARDA, hingga US$ 483 juta atau Rp 7,2 triliun untuk mempercepat pengembangan mRNA-1273.

BARDA (Biomedical Advanced Research and Development Authority) atau Biomedis Penelitian Lanjutan dan Otoritas Pengembangan adalah satu divisi dari Kantor Asisten Sekretaris untuk Kesiapsiagaan dan Respons AS (Assistant Secretary for Preparedness and Response/ASPR) di Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (US Department of Health and Human Services/HHS).

Sementara AstraZeneca adalah farmasi asal Inggris dan tercatat di Bursa New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange.

Sebelumnya AstraZeneca berencana memproduksi 2 miliar dosis vaksin virus corona baru penyebab Covid-19, termasuk 400 juta untuk AS dan Inggris, serta 1 miliar untuk masyarakat di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Meski kedua perusahaan tersebut sudah menemukan vaksin yang efektif untuk Covid-19, namun mewujudkan vaksinasi global tetap bukanlah pekerjaan mudah dan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Moderna mengembangkan kandidat vaksin Covid-19 yang diberi nama mRNA-1273. Kini mRNA-1273 sedang diuji klinis di tahap dua. Rencananya pada pertengahan Juli nanti mRNA-1273 akan masuk ke tahap uji klinis fase ketiga.

Perusahaan yang berbasis di Massachusets, AS tersebut berencana untuk menyediakan vaksin Covid-19 100 mikrogram dengan dosis mencapai 1 miliar di tahun depan.

Berbeda dengan Moderna, AstraZeneca kini sudah menguji vaksin buatannya yang diberi nama AZD1222 itu sampai di tahap uji klinis fase III. Perusahaan farmasi yang bermarkas di Cambridge, Inggris itu menggandeng Universitas Oxford untuk mengembangkan vaksinnya.

AstraZeneca juga sudah terikat perjanjian dengan Eropa melalui Inclusive Vaccine Alliance (IVA) yang dipelopori oleh Jerman, Perancis, Italia dan Belanda untuk memasok vaksin sebanyak 400 juta dosis di akhir tahun ini.

AstraZeneca juga memiliki kesepakatan serupa dengan AS, Inggris, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) dan Gavi untuk menyediakan 700 juta dosis vaksin dan sepakat untuk menyediakan 1 miliar dosis lainnya dengan Serum Institute of India untuk memasoknya ke negara dengan pendapatan rendah-menengah.

Jika ditotal maka kapasitas produksi AstraZeneca mencapai 2 miliar dosis dalam setahun. Ditambah dengan kapasitas Moderna sebesar 1 miliar dosis dalam setahun, maka secara total kapasitasnya menjadi 3 miliar.

Apabila mengacu pada timeline pengembangan vaksin terbaru, maka dibutuhkan waktu sekitar 12-18 bulan. Artinya vaksin paling tidak akan tersedia di akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Asumsi Angka
Kapasitas Produksi Vaksin AstraZeneca (miliar dosis) 2
Kapasitas Produksi Vaksin Moderna (miliar dosis) 1
Kapasitas Produksi Vaksin Total (miliar dosis) 3
Dosis Vaksinasi (dosis) 1
Durasi Imunitas/Laju Evolusi Virus (kali/tahun) 1
Total Populasi Manusia di Bumi (Miliar)

7,8

Sumber : AstraZeneca, Contagionlive, Healthline, CNBC Indonesia

Saksikan video terkait di bawah ini:

Deretan Saham yang Diborong & Dilepas Asing di Semester I


(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading