Sentimen Pasar Pekan Depan

Corona & Resesi, "Duet Maut" yang Mengancam Pasar Keuangan RI

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
28 June 2020 20:00
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Kamis 26/3/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia masuk ke zona merah di pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah masing-masing melemah 0,77% dan 0,71%. Sementara di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 0,9 basis poin ke 7,194%.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun.

Serangan virus corona gelombang kedua dan risiko terjadinya resesi yang semakin dalam membuat aset-aset dalam negeri melemah. "Duet Maut" tersebut masih akan menjadi ancaman bagi pasar keuangan Indonesia pada pekan depan. 


Tekanan bisa langsung muncul di awal pekan. Penyebabnya adalah bursa saham AS (Wall Street) anjlok tajam pada perdagangan Jumat (26/6/2020). Indeks Dow Jones ambrol 2,8%, S&P 500 -2,4%, dan Nasdaq -2,6%, penyebabnya tentu saja lonjakan kasus pandemi penyakit Covid-19 di AS.

Sebagai kiblat bursa saham dunia, anjloknya Wall Street akan mengirim hawa negatif ke pasar Asia pada perdagangan Senin (29/6/2020). Apalagi, sepanjang akhir pekan ini tidak ada kabar bagus yang mampu mengangkat sentimen pelaku pasar.

Serangan virus corona gelombang kedua muncul diberbagai belahan dunia, mulai dari Asia, Eropa, hingga ke Amerika Serikat.

Ibu kota China, Beijing, menjadi perhatian dalam beberapa pekan terakhir akibat peningkatan kasus Covid-19. Korea Selatan juga mengalami hal yang sama, tetapi sebelum semakin meluas berhasil diredam kembali.

Australia juga mengalami hal serupa, khususnya di negara bagian Victoria. Dampaknya Pemerintah Negara Bagian Victoria memperpanjang masa tanggap darurat sampai 19 Juli. Satu rumah tangga maksimal hanya boleh menampung lima orang dan pertemuan di luar ruangan dibatasi paling banyak 10 orang. Padahal sebelumnya pemerintah telah memberi kelonggaran dengan memperbolehkan 20 orang berkumpul di luar ruangan.

Beralih ke Eropa, Jerman kembali menerapkan kebijakan karantina (lockdown) di wilayah Guetersloh dan Warendorf di Jerman barat. Lockdown akan dilakukan setidaknya hingga 30 Juni.

Yang paling menjadi sorotan adalah Amerika Serikat. Negeri Paman Sam sepanjang pekan ini beberapa kali melaporkan rekor penambahan kasus harian tertinggi.

Berdasarkan data Worldometer, per Jumat (26/6/2020) lalu, kasus baru Covid-19 bertambah sebanyak 40.685 kasus, sehingga total kasus di Negeri Paman Sam nyaris 2,6 juta orang.

Akibatnya, negara bagian Texas dan Florida yang mencatat kasus terbanyak harus menghentikan pelonggaran lockdown.

Serangan Covid-19 gelombang kedua tersebut tentunya dapat memperburuk laju pemulihan ekonomi global saat ini, sehingga pelaku pasar akan berhati-hati mengalirkan modalnya ke negara emerging market seperti Indonesia.

IMF Perburuk Sentimen Pelaku Pasar, Data China & AS Bisa Jadi Harapan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading