Emas Diramal Cetak Rekor di Akhir 2020, Tapi Bakal Turun Dulu

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
18 June 2020 19:51
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (18/6/2020), meski sentimen pelaku pasar sedang memburuk akibat kecemasan akan penyebaran pandemi penyakit virus corona (Covid-19) gelombang kedua.

Pada pukul 18:52 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1.720,71/troy ons, melemah 0,32% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

China, lokasi pertama wabah Covd-19, kini mengalami peningkatan kasus Covid-19. Kali ini episentrumnya di Beijing. Kemarin, ada tambahan 31 kasus baru, sehingga total ada 137 kasus sejak pertama kali dilaporkan pada Jumat (12/6/2020) pekan lalu. Akibatnya, beberapa penerbangan dibatalkan, sekolah diliburkan, dan pengunjung dari luar kota dibatasi.


Peningkatan kasus tersebut membuat pelaku pasar waspada akan kemungkinan penerapan karantina wilayah (lockdown) lagi di China, yang tentunya akan memukul pertumbuhan ekonomi global.

Tidak hanya di China, di Negeri Paman Sam juga terjadi hal yang sama. Negara Bagian Texas melaporkan penambahan kasus sebanyak 2.793 orang atau 11% dari total kasus yang ada Rabu kemarin. Sebelumnya pada hari Selasa, tercatat kasus baru sebanyak 2.518.

Penambahan kasus Covid-19 tersebut menjadi penyebab memburuknya sentimen pelaku pasar dan bursa saham berguguran. Dalam kondisi itu, emas seharusnya bisa menguat, tetapi nyatanya malah melempem.

Direktur global trading Kitco Metals Peter Hug menilai emas akan melemah dalam jangka pendek, tetapi di akhir tahun akan melewati level US$ 1.920/troy ons, alias mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Faktor musiman akan menyebabkan emas melemah di musim panas (Juni-Agustus), tetapi dalam jangka menengah jalur penguatan emas masih terbuka.

"Jangka pendek, khususnya karena faktor musiman, harga emas akan melemah, tetapi pada akhir tahun saya pikir level tertinggi tahun 2011 yakni US$ 1.920, akan berhasil dicapai atau bahkan lebih tinggi lagi," kata Hug sebagaimana dilansir Kitco News.

Ia menambahkan kerusakan ekonomi yang panjang akibat pandemi Covid-19 akan memicu koreksi lagi di pasar saham, dan emas juga akan ikut terkoreksi. "Saya pikir itu (koreksi pasar saham) tidak akan menjadi bullish bagi emas. Saya pikir reaksi awal emas akan ikut melemah karena orang-orang mulai panik dan memilih memegang uang kas," tambahnya.

Pergerakan tersebut pernah terjadi di bulan Maret, saat bursa saham diterpa aksi jual masif, emas justru ikut ambrol, saat itu muncul jargon "cash is the king".

Analisis Teknikal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading