Newsletter

Mampukah Bursa Menguat di Tengah Risiko 'The Great Lockdown'?

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
17 June 2020 06:18
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 12 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,01% ke 4.895,75. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara (trading halt) setelah  Harga tersebut ke 4.895,75 terjadi pada pukul 15.33 WIB.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta,CNBC Indonesia - Bursa keuangan nasional menguat kemarin, terbantu hembusan angin positif dari Amerika Serikat (AS). Hari ini, laju kenaikan berpeluang terganggu oleh perkembangan buruk di China.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (16/6/20) dengan menguat 3,53% ke 4.986,45. Menurut data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Sebanyak 341 saham naik, 102 saham turun dan sisanya 145 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 8,5 triliun.


Penguatan terjadi mengikuti tren global menyambut rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) yakni Federal Reserve (The Fed), yang berencana melakukan pembelian obligasi swasta hingga ke pasar sekunder.

Dengan langkah tersebut, para investor obligasi di AS pun mendapatkan kesempatan untuk menjual surat utang mereka pada harga premium dan mendapatkan dana tunai yang selanjutnya diputar dan diekspansikan ke pasar keuangan global.

Namun, investor asing memilih mengambil kesempatan itu untuk merealisasikan keuntungan di bursa Indonesia, dengan aksi jual bersih sebanyak Rp 595 miliar di semua pasar. Sasaran utama mereka adalah saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan jual bersih Rp 123 miliar dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) senilai Rp 20 miliar.

Eforia juga terlihat di pasar uang. Rupiah ditutup menguat 0,21% ke Rp 14.020 per dolar AS, sehingga menjadi juara Asia sebagai mata uang berkinerja terbaik kemarin. Padahal, Mata Uang Garuda tersebut sempat melemah di pembukaan, sebesar 0,21%.

Hal yang serupa terjadi di bursa obligasi dengan kenaikan harga surat utang negara (SUN) yang menjadi acuan (benchmark), yakni FR0082. Imbal hasil (yield) surat utang bertenor 10 tahun ini melemah 0,4 basis poin (bps) menjadi 7,244%.

Besaran 100 bps setara dengan 1%. Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield, begitupun sebaliknya.

Wall Street Melesat 526 Poin Sambut Data Ritel
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading