Special Research

Likuiditas, "Senjata Rahasia" Bank Mega di Era Pandemi

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
16 June 2020 15:38
Bank Mega

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah krisis corona, kondisi perbankan nasional sempat dikhawatirkan tertekan. Namun, otoritas keuangan memastikan likuiditas masih aman dan beberapa bank terbukti masih "berlimpah dana", salah satunya PT Bank Mega Tbk.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan industri perbankan saat ini dalam kondisi stabil dan terjaga. Hal ini tercermin dari rasio-rasio keuangan di industri perbankan yang masih terjaga dalam batas aman (threshold).

Menurut catatan OJK, hingga April rasio kecukupan likuiditas yakni rasio alat likuid (non-core deposit) dan rasio alat likuid terhadap DPK (dana pihak ketiga) per April 2020 terpantau pada level 117,8% dan 25,14%, jauh di atas threshold keduanya masing-masing sebesar 50% dan 10%.


"Untuk itu OJK mengharapkan masyarakat tetap tenang dan melakukan transaksi perbankan secara wajar," tulis OJK dalam pernyataan resmi pada Kamis (11/6/2020). OJK menanggapi kekhawatiran yang sempat beredar mengenai kondisi industri keuangan nasional di tengah pandemi.

Pernyataan OJK tersebut bukan hanya "gincu di bibir", demi menenangkan pasar melainkan berbasis data dan fakta secara umum. Tentu ada bank-bank kecil yang sedang kepayahan, tetapi jika bicara risiko sistemik, kondisi industri perbankan masih sangat kuat.

Likuiditas yang kuat bisa ditemukan di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk sebagai bank beraset terbesar nasional dan juga paling menguntungkan, dengan rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) per Maret 2020 yang di kisaran 230%, atau di atas threshold sebesar 100%.

Betul bahwa BRI terkategori sebagai bank Buku IV (bermodal inti di atas Rp 30 triliun). Lalu apakah kondisi serupa juga terjadi di bank Buku III (bermodal inti Rp 5 triliun - Rp 30 triliun)? Tim Riset CNBC Indonesia mengambil sampel dari laporan bulanan PT Bank Mega Tbk.

Berdasarkan data per April 2020, terlihat bahwa bank berkode saham MEGA tersebut masih memiliki likuiditas yang besar, yakni senilai Rp 22,4 triliun, terutama berasal dari penempatan dana di Bank Indonesia (BI) dalam kontrak reverse repo. Kontrak yang bisa dicairkan sewaktu-waktu ini nilainya mencapai Rp 17,5 triliun.

Lalu jika ditambahkan dengan likuiditas sekunder, yakni dana penempatan bank lain serta obligasi korporasi yang juga bisa dicairkan dalam jangka waktu kurang dari sebulan, maka likuiditas Bank Mega mencapai Rp 30,5 triliun.

Pentingnya Likuiditas di Tengah Krisis Corona
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading