OECD Sebut Ekonomi Dunia 2020 Kontraksi 6%, RI Minus 3,9%

Market - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
10 June 2020 18:52
Sejumlah kendaraan melintasi Flyover Pancoran, Jakarta, Rabu (17/1/2018). Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mencatat, uji coba (open traffic) Flyover Pancoran yang dimulai sejak pukul 06.00 pada tadi efektif mengurangi kemacetan hingga 60 persen di jalan eksisting. Wakil Kepala Dishub DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi lalu lintas sejak pukul 07.00-10.00, jumlah kendaraan yang melintas di sekitar kawasan Flyover Pancoran hanya berkisar 11.300 unit.
Walau telah dibuka untuk umum, namun konstruksi Flyover Pancoran masih belum mengantongi Sertifikat Laik Fungsi atau SLF.

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) memprediksi ekonomi global akan berkontraksi setidaknya 6% pada tahun ini akibat penutupan ekonomi guna menekan angka wabah Covid-19.

OECD juga memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi global akan "melambat dan tidak pasti".

Selain itu, dengan adanya ancaman penularan Covid-19 gelombang kedua (second wave) pada tahun ini, output (keluaran) ekonomi dunia bahkan diprediksi menyusut hingga 7,6% pada tahun 2020.


Output ekonomi biasanya didefinisikan sebagai jumlah barang atau jasa yang diproduksi dalam periode waktu tertentu oleh masyarakat, perusahaan, atau pemerintah, baik untuk dikonsumsi langsung atau diolah kembali untuk produksi lebih lanjut.

Dengan adanya kekhawatiran penyusutan output tersebut, ini akan diikuti dengan pertumbuhan PDB global pada 2021 antara 2,8% dan 5,2%.

Menurut OECD, pertumbuhan PDB global bisa mencapai 5,2% pada 2021 jika hanya ada gelombang pertama Covid-19. Namun jika ada gelombang kedua, maka PDB pada tahun depan hanya akan naik 2,8%.

"Pada akhir 2021, hilangnya pendapatan melebihi dari resesi sebelumnya selama 100 tahun terakhir, di luar masa [terjadinya] perang, dengan konsekuensi yang mengerikan dan cukup lama [berdampak] bagi masyarakat, perusahaan, dan pemerintah," kata OECD dalam laporan terbaru berjudul "World Economy on a Tightrope", Rabu (10/6/2020), dikutip dari Reuters.

Organisation for Economic Co-operation and Development OECDFoto: Organisation for Economic Co-operation and Development (iisd.org)
Organisation for Economic Co-operation and Development OECD

"Tingkat utang swasta juga sangat tinggi di beberapa negara dan ada risiko adanya kegagalan bisnis dan kebangkrutan yang besar," tulis lembaga yang berpusat di Paris, Prancis ini.

Dalam laporan pada Maret sebelumnya, saat wabah masih melanda China dan belum tersebar secara global, OECD memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global sebanyak setengah poin persentase menjadi 2,4%, terburuk sejak krisis keuangan 2008.

Selama tidak ada vaksin Covid-19 atau pengobatan terhadap virus corona, OECD menilai para pembuat kebijakan di negara-negara terdampak Covid-19 akan terus berjalan di atas risiko yang tinggi, OECD mengistilahkan berjalan di atas 'tali'.

Lembaga yang beranggotakan sekitar 36 negara ini menilai bahwa sejumlah negara memang berupaya memerangi pandemi dengan mencegah penularan, menguji orang terhadap virus, dan melacak serta mengisolasi mereka yang terinfeksi.

"Tetapi sektor-sektor yang dipengaruhi oleh penutupan perbatasan [lockdown] dan sektor yang berkaitan dengan layanan pribadi seperti pariwisata, perjalanan, hiburan, restoran, dan akomodasi tidak akan berlanjut [tumbuh] seperti sebelumnya," papar laporan tersebut.

Namun laporan OECD memperingatkan kembali, bahwa jika langkah-langkah itu tak mampu mencegah penularan gelombang kedua, maka pemerintah perlu menyesuaikan strateginya pada masa transisi, dan membuka peluang melakukan dukungan restrukturisasi bagi perusahaan-perusahaan terdampak secara cepat.

"Kerja sama global demi mengatasi virus lewat pengobatan dan vaksin serta dimulainya kembali dialog multilateral antar-negara akan menjadi kunci untuk mengurangi keraguan dan membuka momentum pemulihan ekonomi," tulis OECD.

Indonesia

Khusus untuk Indonesia, OECD memprediksi pertumbuhan ekonomi berpotensi terkontraksi sebesar 2,8% hingga 3,9% tahun ini, dengan kenaikan PDB tahun depan sebesar 5,2%.

Tapi ini dengan catatan jika hanya melewati gelombang pertama Covid-19, sementara pertumbuhan PDB Indonesia bisa 2,6% tahun depan jika melewati gelombang kedua Covid-19.

Pada 2019, PDB Indonesia mencapai 5,0%. Dengan populasi penduduk mencapai 273.350.295, Indonesia masih dianggap menjadi salah satu negara dengan tingkat pengetesan virus corona terendah di dunia.

Indonesia kini memiliki 34.316 kasus terjangkit Covid-19, naik 1.241 kasus per hari. Dengan 1.959 kasus kematian, dan 12.129 pasien berhasil sembuh sejauh ini, mengacu data Gugus Tugas per Rabu siang (10/6/2020). Dengan angka ini, Indonesia menduduki posisi kedua dengan kasus terjangkit terbanyak di wilayah ASEAN setelah Singapura.

Sedangkan secara global, sudah ada 7.339.470 kasus terjangkit, 414.060 kasus kematian, dan 3.618.557 pasien berhasil sembuh, menurut data Worldometers, hingga Rabu pagi (10/6/2020).

Di sisi lain, sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini versi Bank Dunia akan mengalami stagnansi atau 0%, karena dampak dari pandemi virus corona.

Kendati demikian, Bank Dunia meramal, pertumbuhan ekonomi pada 2021 akan berangsur pulih dan bisa tumbuh pada kisaran 4,8%. Hal ini tertuang dalam laporan Bank Dunia bertajuk Global Economic Prospects edisi Juni 2020.

 

[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading