Ancaman Resesi di RI: Ibarat Telur di Ujung Tanduk

Market - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
26 June 2020 10:12
[DALAM] Resesi Foto: Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian Indonesia diprediksi akan mengalami pertumbuhan negatif pada kuartal II tahun ini dan bahkan akan berlanjut di kuartal III-2020. Dengan pertumbuhan negatif ini Indonesia terancam akan masuk ke jurang resesi alias koreksi pertumbuhan dalam dua kuartal beruntun.

Hal ini diungkapkan oleh ekonom CORE Indonesia, Piter Abdullah dan ekonom Indef, Bhima Yudhistira, kepada CNBC Indonesia. Keduanya berpendapat bahwa resesi adalah keadaan di mana pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Bahkan, keduanya mengatakan Indonesia bagaikan telur di ujung tanduk untuk masuk ke zona resesi.


"Triwulan II sudah bisa dipastikan pertumbuhan ekonomi kita akan negatif. Demikian juga dengan triwulan III. Meskipun membaik tapi berpotensi negatif. Jadi dua triwulan kita akan mengalami pertumbuhan negatif atau kita mengalami resesi," ujar Piter.

Ia memproyeksikan pada triwulan II-2020 pertumbuhan ekonomi akan ada di kisaran -2% sampai -5%. Sementara di triwulan III-2020 antara -2% sampai 0%.

Piter mengatakan, stimulus dan pelonggaran ekonomi atau new normal merupakan solusi konkret. Hal ini memberi nafas agar dunia usaha bisa bertahan di tengah wabah.

Piter Abdullah: Perpu, Ruang Bagi Pemerintah Untuk Biayai APBN (CNBC TV )Foto: Piter Abdullah: Perpu, Ruang Bagi Pemerintah Untuk Biayai APBN (CNBC TV )
Piter Abdullah: Perpu, Ruang Bagi Pemerintah Untuk Biayai APBN (CNBC TV )

"Demikian juga dengan pelonggaran ketentuan restrukturisasi kredit oleh OJK [Otoritas Jasa Keuangan] serta pelonggaran moneter oleh BI [Bank Indonesia]."

Namun perlu dicatat stimulus itu bukan untuk mencegah resesi, tapi menahan agar tidak terjadi krisis. "Resesi sudah di ambang mata. Stimulus adalah kebijakan konkret, tapi perlu lebih konkret lagi dengan realisasi yang cepat. Sekarang realisasinya lambat," kata Piter.

Bhima juga menilai Indonesia sudah tidak bisa terhindar dari resesi di tahun ini. Bahkan, Indonesia di nilai sudah di ambang krisis.

"Indonesia masuk dalam fase krisis dimana pertumbuhannya minus. Ini sudah krisis," jelasnya.

Ia pun memastikan, pertumbuhan ekonomi di kuartal II sudah pasti negatif di kisaran -5% hingga -7%. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi kuartal III -4%.

Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), Josua Pardede juga sependapat bahwa perekonomian kuartal II menjadi yang paling tertekan. Apalagi pada kuartal ini diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membuat kegiatan perekonomian lumpuh.

Di kuartal II sudah pasti anjlok terlihat juga dari banyak PHK yang dilakukan oleh hampir semua lapisan sektor usaha. Ini menandakan semua sektor usaha mengalami pukulan berat.

"Dari sisi sektornya dan levelnya, UMKM, mikro, dan koperasi juga mengalami hal yang sama. Semuanya tidak dapat beroperasi secara normal dan harus mengurangi tenaga kerja dan di kuartal II dampak pengurangan pekerja dan sampai PHK dan daya beli masyarakat menurun signifikan," jelasnya.

Dengan hilangnya pendapatan masyarakat, maka daya beli juga akan turun signifikan dan diperkirakan akan terkontraksi hingga minus 4%. Dengan demikian maka pertumbuhan ekonomi di kuartal II akan minus 3%-minus 4%.\

Sementara itu, untuk kuartal III akan lebih baik dari kuartal II meski masih tumbuh negatif. Dimana pada kuartal II, pembatasan sosial mulai dilonggarkan dan berlakunya era new normal sehingga perekonomian bisa sedikit berjalan.

"Kontraksi di kuartal III mungkin bisa berkurang dengan posisi negatif 2%," kata Josua.

Untuk sepanjang tahun ini, ia memperkirakan perekonomian akan berada di kisaran negatif 1% hingga 0,5%. Pertumbuhan positif bisa dicapai dengan syarat penyerapan belanja yang telah digelontorkan pemerintah bisa diserap dengan cepat.

"Kalau penyerapan belanja bisa lebih cepat, bisa full year nya positif. Tapi kalau penyerapan belum optimal, kita perlu antisipasi dan pertumbuhan full year negatif," tutupnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan skenario berat hingga paling buruk akibat pandemi covid-19, yang akan dialami di Indonesia telah disiapkan.

Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mengalami kontraksi hingga 0,4% di akhir tahun. Sementara untuk skenario berat, perekonomian RI hanya akan tumbuh di kisaran 2,3 persen.

"Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi akan turun ke 2,3%, bahkan skenario lebih buruk -0,4%," ujar Sri Mulyani.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) juga pertumbuhan ekonomi Tanah Air berpotensi terkontraksi sebesar 2,8% hingga 3,9% tahun ini, dengan kenaikan PDB tahun depan sebesar 5,2%.

Tapi prediksi lembaga yang beranggotakan sekitar 36 negara itu bisa terealisasi dengan catatan jika hanya terjadi gelombang pertama Covid-19, sementara pertumbuhan PDB Indonesia bisa tumbuh hanya 2,6% tahun depan jika terjadi gelombang kedua Covid-19.

IMF, Dana Moneter Internasional, juga memprediksi ekonomi RI pada 2020 -0,3% dan akan rebound di 2021 menjadi 6,1%. Adapun ekonomi global diproyeksi akan -4,9%. Angka ini lebih rendah 1,9 poin persentase dibanding outlook IMF pada April 2020, yakni -3%.

"Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang negatif pada paruh pertama 2020 daripada yang diperkirakan," tulis lembaga itu, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2020).

Saksikan video terkait di bawah ini:

Janji Sri Mulyani: Indonesia Tidak Resesi


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading