Internasional

AS-China Ribut Laut China Selatan, PM Singapura Buka Suara

Market - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
06 June 2020 09:25
U.S. President Donald Trump and Singapore's Prime Minister Lee Hsien Loong shake hands during a meeting at the Istana in Singapore June 11, 2018.  REUTERS/Jonathan Ernst

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan memanas antara Amerika Serikat (AS) dan China di Laut China Selatan rupanya menjadi perhatian bagi negara lain, salah satunya Singapura.

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong bahkan secara khusus mengungkit soal ribut antara AS-China di wilayah tersebut.

Melalui sebuah artikel yang diterbitkan oleh Urusan Luar Negeri pada hari Kamis (4/6/2020), Lee mengatakan bahwa kehadiran militer AS di wilayah itu "tetap vital bagi kawasan Asia-Pasifik" dan China tidak akan dapat mengambilalih peran itu di Asia Tenggara bahkan jika kekuatan militernya meningkat.

"Klaim maritim dan teritorial China yang bersaing di Laut China Selatan berarti bahwa negara-negara di kawasan itu akan selalu melihat kehadiran angkatan laut China sebagai upaya untuk memajukan klaim-klaim itu," lanjut Lee dalam artikelnya.


"Meskipun kekuatan militernya meningkat, China tidak akan dapat mengambil alih peran keamanan Amerika Serikat."

Lebih lanjut, Lee yang mantan Menteri Keuangan Singapura periodeĀ 10 November 2001 - 1 Desember 2007 ituĀ mengatakan jika harus dipaksa memilih antara AS atau China, jelas bahwa negara-negara pasifik tidak ingin memilih, sebab semua negara ingin berdamai.

"Negara-negara Asia-Pasifik tidak ingin dipaksa untuk memilih antara Amerika Serikat dan China," tulis Lee. "Mereka ingin memupuk hubungan baik dengan keduanya."

U.S. President Donald Trump and his delegation have lunch with Singapore's Prime Minister Lee Hsien Loong and officials at the Istana in Singapore June 11, 2018.  REUTERS/Jonathan ErnstFoto: REUTERS/Jonathan Ernst
U.S. President Donald Trump and his delegation have lunch with Singapore's Prime Minister Lee Hsien Loong and officials at the Istana in Singapore June 11, 2018. REUTERS/Jonathan Ernst


"Jika AS berusaha menahan China, atau jika Beijing berusaha membangun pengaruh eksklusif di Asia, kedua negara akan memulai suatu rangkaian konfrontasi yang akan berlangsung selama beberapa dekade dan membahayakan abad Asia," katanya, menambahkan setiap konfrontasi AS-China dapat berakhir seperti Perang Dingin.

Lee juga menekankan pentingnya kedua negara untuk berkolaborasi dalam hal yang mendukung kemajuan semua negara.

"Pilihan strategis yang dibuat oleh Amerika Serikat dan China akan membentuk kontur tatanan global yang sedang muncul," tulis Lee.

"Wajar jika kekuatan besar bersaing. Tetapi kapasitas mereka untuk kerja sama adalah ujian nyata dari tata negara, dan itu akan menentukan apakah umat manusia membuat kemajuan dalam masalah-masalah global seperti perubahan iklim, proliferasi nuklir, dan penyebaran penyakit menular."

Artikel itu diterbitkan di saat ketegangan antara AS dan China terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu memperdebatkan berbagai hal selain soal klaim China di Laut China Selatan, termasuk soal jaringan 5G sampai soal pandemi Covid-19.

Di Asia, Singapura dikenal sebagai salah satu negara paling vokal dalam menyerukan AS-China untuk menghindari bentrokan destruktif yang akan memaksa negara-negara kecil untuk memilih pihak.

Di samping membahas soal AS di Laut China Selatan, Lee juga menekankan soal pentingnya kehadiran AS di Asia Utara. Lee mengatakan jika AS menarik diri dari kawasan itu, maka Jepang dan Korea Selatan mungkin akan mempertimbangkan untuk mengembangkan senjata nuklir untuk menghadapi ancaman Korea Utara yang semakin meningkat.



[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading