Terkuak! Alasan Singapura 'Kuasai' GoTo-Bukalapak-Shopee cs

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
23 August 2021 09:40
foto/ Presiden Jokowi Bertemu PM Singapura (Foto: Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura memang merupakan negara paling kecil di Asia Tenggara, akan tetapi jaringan bisnis dan investasinya menggurita hingga ke seluruh dunia.

Melalui Government of Singapore Investment Corporation (GIC), Temasek Holdings Limited dan Monetary Authority of Singapore (MAS), pemerintah Singapura aktif melakukan investasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Investasi tersebut hadir dan dapat dilihat salah satunya pada perusahaan rintisan teknologi dan digital dalam negeri, mulai dari GoTo, Bukalapak, hingga Shopee yang dikendalikan perusahaan swasta non-BUMN asal Singapura, Sea Ltd.


Hal apa saja yang membuat tiga entitas investasi utama pemerintah Singapura yang mengelola dana kekayaan (SWF) dan cadangan devisa negara tersebut (dan perusahaan Singapura swasta) tertarik untuk melakukan investasi di Indonesia?

Berikut Tim Riset CNBC coba merangkum lima alasan yang mungkin melatarbelakangi gairah investasi, khususnya di pasar digital Indonesia.

1. RI Episentrum Start-up Teknologi Asia Tenggara

Asia Tenggara adalah rumah bagi sekitar 400 juta pengguna internet dan 10% dari mereka baru online untuk pertama kalinya pada tahun 2020.

Keuntungan demografis ini membuat sektor ekonomi digital diperkirakan akan berkembang secara pesat, khususnya perusahaan rintisan teknologi yang diperkirakan nilainya akan mencapai US$ 1 triliun atau setara dengan Rp 14.500 triliun (kurs Rp 14.500/US$) pada tahun 2025 mendatang.

Tahun lalu, perusahaan rintisan teknologi di Asia Tenggara memiliki total valuasi gabungan sebesar US$ 340 miliar atau setara Rp 3.930 triliun, angka tersebut diprediksi akan meningkat lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2025, menurut perusahaan modal ventura asal Singapura, Jungle Ventures.

2. Pertumbuhan Ekonomi digital RI Menjanjikan

Google, Temasek, dan Bain Company merilis laporan bahwa penetrasi ekonomi digital Indonesia paling pesat dalam 5 tahun terakhir di kawasan Asia Tenggara. Bahkan Indonesia diperkirakan menjadi negara yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang dinamis bagi Asia Tenggara.

Ekonomi digital di Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand - enam ekonomi terbesar Asia Tenggara - diperkirakan akan melampaui US$ 300 miliar (Rp 4.350 triliun) pada tahun 2025. Dari angka tersebut hampir setengahnya merupakan bagian dan kontribusi Indonesia

Dalam laporannya, Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf mengatakan, sebagai ekonomi internet terbesar dan paling cepat berkembang di kawasan Asia Tenggara, Indonesia bisa menghimpun perekonomian melalui digital mencapai US$ 133 miliar (Rp 1.928 triliun) pada 2025.

Pada 2019 saja, ekonomi digital di Indonesia sudah mencapai US$ 40 miliar (Rp 580 triliun) atau tumbuh lima kali lipat dibandingkan tahun 2015 yang hanya sebesar US$ 8 miliar (Rp 116 triliun) saja.

Senada dengan hasil kajian Google, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi membeberkan road map perdagangan digital di Indonesia hingga 10 tahun mendatang. Potensi nilai ekonomi digital pada 2030 mencapai Rp 4.531 triliun atau naik delapan kali lipat dari 2020.

Lutfi menggambarkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia bisa sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital. Jika dilihat PDB Indonesia 2020 sebesar Rp 15.400 triliun, diprediksi akan menjadi Rp 24.000 triliun pada 2030.

Pada saat yang bersamaan, kontribusi Ekonomi Digital Indonesia (EDI) pada 2020 sebesar Rp 603 triliun dan akan naik 8 kali lipat pada 2030 menjadi Rp 4.531 triliun.

NEXT: Ada Pasar IPO hingga Data Center

Pasar IPO hingga Data Center
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading