Ini Penyebab Harga Batu Bara Ambles & Gagal Tembus US$ 60

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
28 May 2020 11:02
Foto: Reuters
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang ramai ditransaksikan ditutup ambles pada perdagangan kemarin. Sentimen positif terkait pelonggaran lockdown dan kembali dibukanya ekonomi belum mampu membawa harga batu bara kembali ke level US$ 60/ton.

Rabu (27/5/2020), harga batu bara kontrak berjangka Newcastle melemah tipis 1% ke US$ 55,4/ton. Sejak 20 Mei lalu harga batu bara cenderung flat setelah mencoba merangkak naik ketika memasuki bulan Mei.

Bulan Mei menang seolah menjadi berkah untuk beberapa harga komoditas. Penguatan harga minyak mentah turut mengerek harga batu bara yang juga berperan sebagai sumber energi primer menguat. 




Memasuki bulan Mei sudah mulai banyak negara yang melonggarkan lockdown dan pembatasannya. Aktivitas ekonomi secara bertahap berangsur pulih walau protokol kesehatan masih tetap dijalankan.

Selama lockdown terjadi di berbagai negara di dunia, permintaan terhadap listrik terutama untuk sektor industri dan komersil menurun. Maklum pabrik banyak yang tidak beroperasi atau tetap berproduksi dengan kapasitas rendah dan pusat perbelanjaan tutup.

Anjloknya permintaan listrik berdampak pada penurunan permintaan batu bara yang jadi bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Ketika secara perlahan banyak negara terutama negara konsumen batu bara melonggarkan pembatasannya, maka ada harapan permintaan si batu hitam bisa membaik.

Hubungan Australia dengan China yang retak memunculkan ketidakpastian baru dan membuat pasar mulai mengkhawatirkan bahwa permintaan batu bara China akan anjlok.

Keretakan hubungan bilateral keduanya diawali ketika Australia menjadi salah satu negara yang mendukung adanya investigasi independen terkait asal muasal virus corona. Tak berapa lama setelah itu China memutuskan untuk memberikan sanksi dagang berupa bea impor untuk produk barley dari Australia.

Negeri Kangguru menilai aksi China tersebut merupakan langkah retaliasi yang ditempuh oleh Negeri Tirai Bambu. Tensi hubungan bilateral keduanya yang meninggi memicu kecemasan bahwa poros perang dagang baru akan terbentuk dan akan merembet ke komoditas selain barley seperti batu bara.

Para pemasok batu bara termal lintas laut semakin khawatir bahwa Cina berencana untuk menangguhkan impor batu bara dari Australia. Beberapa trader China menduga penangguhan impor Australia akan berlaku pada 1 Juli.

Sebenarnya tanpa adanya tensi geopolitik ini saja, China berpotensi untuk memangkas porsi impor batu baranya hingga seperempat dari periode yang sama tahun lalu. China diperkirakan akan beralih ke suplai batu bara domestiknya untuk mengerek permintaan. 

Potensi China beralih ke suplai batu bara domestiknya membuat beberapa negara pemasok batu bara ke China seperti Australia, Indonesia dan Rusia terancam ekspornya. 



[Gambas:Video CNBC]




TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading