Ekspor RI Minus 7%, IHSG Sesi I Loyo & Asing Kabur Rp 512 M

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
15 May 2020 12:07
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 12 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,01% ke 4.895,75. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara (trading halt) setelah  Harga tersebut ke 4.895,75 terjadi pada pukul 15.33 WIB.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja bursa saham domestik tampaknya masih belum mampu menghijau. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat pembukaan sempat dibuka menguat 0,21% ke level 4.523,53. Namun pada akhir perdagangan sesi 1, Jumat ini (15/5/2020), indeks acuan ini turun 0,43% ke level 4.494,23.

Rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) soal neraca dagang tadi pagi menunjukkan bahwa impor dan ekspor di Indonesia pada April lalu tumbuh lebih lambat dari ekspektasi dan terjadi defisit neraca dagang yang menyebabkan IHSG gagal berbalik ke zona hijau.

Pertumbuhan impor terkontraksi 18,58% dibandingkan dengan periode sebelumnya (YoY) angka ini lebih buruk dari ekspektasi pasar yaitu kontraksi 12,73%.

Sedangkan ekspor kontraksi 7,02% secara YoY, angka ini juga lebih buruk dari ekspektasi pasar yaitu kontraksi 2,70%

Neraca perdagangan Indonesia pada April 2020 mengalami defisit sebesar US$ 350 juta, defisit ini lebih buruk dari angka perkiraan yaitu defisit US$ 200 juta.

 


Sentimen dari pasar global pada hari ini cenderung mixed, tapi reaksi investor di bursa saham domestik cenderung negatif yang membuat IHSG terkoreksi.

Sentimen negatif yang datang dari pasar global dilansir Reuters yang mengabarkan China Institutes of Contemporary International Relations (CICIR) yang merupakan lembaga think tank dengan afiliasi ke Kementerian Pertahanan Negeri Tirai Bambu, membuat laporan bahwa Beijing berisiko diterpa sentimen kebencian dari berbagai negara.

Skenario terburuknya, China harus bersiap dengan kemungkinan terjadinya konfrontasi bersenjata alias perang.

Sentimen negatif juga muncul di pasar domestik setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan hingga 13 Mei 2020 realisasi pembelian kembali (buyback) saham yang dilakukan oleh emiten hanya mencapai 5,4% atau sekitar Rp 1,05 triliun dari komitmen awal Rp 19,4 triliun yang diajukan di tengah kejatuhan pasar akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Rendahnya realisasi pembelian kembali oleh emiten tersebut menjadi sinyal negatif di mana emiten masih belum siap membeli saham mereka kembali dan melawan tren pasar.

Sentimen positif dari pasar global pun ditambah dengan pernyataan dari Kayleigh McEnany, Juru Bicara Gedung Putih, mengungkapkan pemerintahan Donald Trump siap menambah stimulus fiskal untuk memerangi dampak negatif dari wabah virus corona.

"Bapak Presiden sedang mempertimbangkannya. Beliau terbuka untuk itu," kata McEnany, seperti dikutip dari Reuters.

Di AS, kompak ketiga indeks besar semuanya naik setelah merespons sentimen-sentimen ini walaupun sempat dibuka di zona merah, tapi ketiganya bisa ditutup menghijau tadi pagi (Kamis waktu AS).

Indeks S&P 500 terapresiasi sebesar 1,15%, Nasdaq naik sebesar 0,91%, sedangkan Indeks Dow Jones melesat 1,62%. Akan tetapi Indeks kontrak berjangka Dow Jones, Dow Futures masih terus turun 0,
16% pada pagi hari ini.

Investor asing 
masih belum bosan menarik dana mereka di IHSG. Hari ini investor asing kembali melanjutkan aksi jual bersih sebanyak Rp 512 miliar.

Angka yang sangat masif mengingat ini baru penjualan di sesi 1.
Saham yang paling banyak dijual asing pagi ini adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sahamnya dijual bersih asing sebanyak Rp 225 miliar yang menyebabkan saham ini terkoreksi sebesar 2,74% ke level harga 23925.

Sedangkan mayoritas bursa Asia sudah mengalami perbaikan seperti, Hang Seng Index Hong Kong naik sebesar 0,40%, Nikkei Jepang menguat 0,36%, sedangkan STI Singapore terapresiasi 0,21%.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

 




(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading