Soal Kinerja Kuartal I Adaro, Boy Thohir: So Far, Oke!

Market - Savira Wardoyo, CNBC Indonesia
28 April 2020 09:41
Pengusaha Boy Thohir saat memberi tanggapan kepada tim CNBC Indonesia di Kantor Adaro, Jakarta, Selasa (24/4) Boy Thohir merupakan putra dari salah satu pemilik Astra International Teddy Tohir. Dia juga seorang pengusaha yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia bisnis. Dia menyelesaikan pendidikan MBA-nya di Northrop University Amerika Serikat. Boy Thohir dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses membawa Adaro Energy sebagai perusahaan batu bara terbesar di Indonesia.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Garibaldi 'Boy' Thohir mengatakan kinerja perusahaan di tengah pandemi virus corona (Covid-19) dinilai masih aman. Ia bersyukur, kondisi perusahaan masih dapat bertahan dalam situasi sulit saat ini.

"Alhamdulillah masih produksi, karena batu bara merupakan sektor strategis. Walaupun work from home (WFH), kan listrik harus tetap jalan. Jadi overall memang terjadi ada penurunan, tapi relatif oke dibandingkan dengan sektor lain," kata Boy Thohir, dalam perbincangan dengan CNBC Indonesia, Senin (27/4/2020).

Boy yang juga kakak dari Menteri BUMN Erick Thohir ini mengatakan, di masa sulit sekarang, penting adanya efisiensi-efisiensi yang dilakukan perusahaan untuk dapat bertahan, sehingga perusahaan dapat berjalan dengan baik.


Ketika ditanya dampak terhadap kinerja pada 3 bulan pertama tahun ini atau kuartal I-2020, Boy menegaskan performa bisnis masih oke. Namun dampak pandemi virus corona akan terlihat pada April dan Mei.

"So far tiga bulan pertama, Januari hingga Maret oke. Impact akan terlihat di April-May," katanya.

Sebagai perbandingan, data laporan keuangan mencatat, pada kuartal I-2019, laba Adaro naik menjadi US$ 118,79 juta (setara Rp 1,8 triliun, asumsi Rp 15.500/US$) dari periode yang sama 2018, US$ 74,43 juta, dengan pendapatan naik menjadi US$ 846,48 juta dari sebelumnya US$ 763,96 juta.

"Di sisi lain, jika dibanding industri pariwisata, perhotelan, travel dan tourism paling tidak revenue kami berjalan cukup baik, seluruh pegawai masih bekerja, tidak ada yang dirumahkan, tidak ada yang terpapar virus. Sekarang saya fokus ke operasional di site [tambang] supaya bisa berjalan dengan baik, tentunya dengan mengikuti protokol Covid-19."

RUPS Adaro (CNBC Indonesia/Syahrizal Sidiq)Foto: RUPS Adaro (CNBC Indonesia/Syahrizal Sidiq)
RUPS Adaro (CNBC Indonesia/Syahrizal Sidiq)


Boy mengatakan, pihaknya juga merevisi target pendapatan dan laba bersih tahun ini. Hal tersebut mengacu pada dampak yang ditimbulkan Covid-19, yang menekan hampir seluruh sektor industri.

"Tentu ada revisi dari pendapatan yang tidak sebaik tahun lalu, profit juga tertekan. Maka dari itu kita terus melakukan efisiensi-efisiensi, karena memang kuncinya itu," tegasnya.

"Bagaimana kita bisa survive dalam kondisi sulit ini dan bagaimana kita harus bisa me-manage cost, sehingga bisa menjadi perusahaan yang efisien, ke depan tentu bisa berkompetisi dengan perusahaan lain bukan hanya Indonesia tapi dunia," katanya.

Tahun lalu, produksi batu bara Adaro Energy mencapai 58,03 juta ton, atau 7% lebih tinggi dari pencapaian produksi tahun 2018 dan melampaui target produksi pada 2019 yang ditetapkan sebesar 54-56 juta ton. Produksi Adaro tersebut berasal dari PT Adaro Indonesia (AI), Balangan Coal Companies dan Adaro MetCoal Companies (AMC).



Adapun tahun ini, sebelum adanya Covid-190, target produksi Adaro sebesar 54-58 juta ton, nisbah kupas 4,30x, EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) operasional sebesar US$ 900 juta-1,2 miliar dan belanja modal US$ 300-400 juta.



[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading