Corona Mulai Berdampak, Laba Adaro Q1 Turun 17% Jadi Rp 1,4 T

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
15 May 2020 11:14
Pengusaha Boy Thohir saat memberi tanggapan kepada tim CNBC Indonesia di Kantor Adaro, Jakarta, Selasa (24/4) Boy Thohir merupakan putra dari salah satu pemilik Astra International Teddy Tohir. Dia juga seorang pengusaha yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia bisnis. Dia menyelesaikan pendidikan MBA-nya di Northrop University Amerika Serikat. Boy Thohir dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses membawa Adaro Energy sebagai perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan pertambangan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) membukukan laba bersih US$ 98,18 juta atau setara dengan Rp 1,46 triliun (asumsi kurs Rp 14.900/US$) pada kuartal I-2020, atau turun 17,35% dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 118,80 juta.

Berdasarkan data laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan laba bersih ini terjadi setelah pendapatan usaha yang juga turun 11,34% menjadi US$ 750,47 juta atau setara Rp 11,18 triliun, dari periode yang sama 2019 yakni US$ 846,48 juta.

Manajemen mengungkapkan penurunan pendapatan ini karena harga jual rata-rata (ASP) turun sebesar 17%. Harga batu bara yang lemah semakin tertekan oleh penurunan permintaan akibat melemahnya ekonomi global karena penerapan lockdown (karantina wilayah) terkait Covid-19.

Selain itu, kedua segmen batu bara termal dan metalurgi di operasi pertambangan batu bara Adaro Energy juga terdampak oleh hal ini seiring penurunan harga batu bara global.


Namun manajemen ADRO menegaskan, di tengah kondisi ini, volume produksi ADRO masih meningkat sebesar 5% y-o-y (year on year) menjadi 14,41 juta ton, sementara volume penjualan naik 8% y-o-y menjadi 14,39 juta ton pada kuartal I-2020 dengan dukungan permintaan dan operasi yang baik.

Beban pokok pendapatan bisa ditekan, turun 5% menjadi US$ 552,07 juta dari sebelumnya US$ 581,75 juta. Hal ini 
karena penurunan nisbah kupas, yang sejalan dengan panduan perusahaan. Perseroan memang menurunkan panduan untuk nisbah kupas tahunan menjadi 4,3x karena mengantisipasi kondisi yang sulit di pasar batu bara.

"Kinerja kami di 1Q20 merupakan refleksi keunggulan operasional aset batu bara yang utama dengan tercapainya volume produksi yang tinggi di tengah kondisi pasar yang sulit," kata Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro, Garibaldi Thohir, dalam keterangan resmi, Jumat (15/5/2020).

Adaro juga mencatat EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) operasional sebesar US$ 265 juta, dan laba inti sebesar US$ 136 juta di kuartal I-2020, sementara belanja modal bersih pada kuartal I-2020 tercatat mencapai US$ 56 juta.

"Pada waktu yang penuh tantangan bagi ekonomi dan pasar batu bara global ini, kami senantiasa meningkatkan efisiensi, memastikan disiplin pengeluaran dan menjaga posisi keuangan yang sehat. Di saat yang sama, kami harus melindungi kesehatan dan keselamatan para karyawan untuk menjaga operasi yang aman dan andal," kata Garibaldi "Boy" Thohir ini.

"Hal ini merupakan tantangan yang tidak terduga bagi kita semua, dan saya menghargai upaya para karyawan sekalian yang telah menghadapi tantangan ini," tegasnya.

Adapun royalti yang dibayarkan kepada Pemerintah Indonesia pada periode 3 bulan pertama tahun ini turun 13% y-o-y menjadi US$ 80 juta atau Rp 1,19 triliun, akibat penurunan pendapatan yang tercatat untuk kuartal I-2020 karena ASP yang lebih rendah secara y-o-y.


[Gambas:Video CNBC]





(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading