Harga Batu Bara Loyo, Laba Adaro Energy Drop 3% di 2019

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
04 March 2020 08:58
Laba bersih emiten tambang batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sepanjang tahun lalu tercatat sebesar US$ 404,19 juta.

Jakarta, CNBC Indonesia - Laba bersih emiten tambang batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sepanjang tahun lalu tercatat sebesar US$ 404,19 juta atau minus 3,24% dari tahun sebelumnya US4 417,72 juta. Nilai laba bersih entitas induk tahun lalu itu setara dengan Rp 5,66 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$).

Berdasarkan laporan keuangan Desember 2019, penurunan laba bersih tersebut seiring dengan pendapatan usaha bersih ADRO yang juga turun 4% menjadi US$ 3,46 miliar atau Rp 48 triliun, dari tahun sebelumnya US$ 3,62 miliar.

Beban pendapatan juga naik 3% menjadi US$ 2,49 miliar dari tahun sebelumnya US$ 2,41 miliar dengan laba usaha yang juga terkoreksi 31% menjadi US$ 618 juta dari US$ 892 juta.


Manajemen ADRO menyebutkan naiknya beban terutama disebabkan oleh kenaikan volume produksi pada tahun 2019. Nisbah kupas gabungan ADRO mencapai 4,69x, atau lebih tinggi daripada panduan yang ditetapkan sebesar 4,56x.

Mengacu laporan keuangan, dari pendapatan bersih tahun lalu, paling besar dikontribusikan dari pertambangan dan perdagangan batu bara sebesar US$ 3,17 miliar, atau minus 5%. Kemudian disusul bisnis jasa pertambangan US$ 218 juta, naik 6% dari tahun sebelumnya US$ 206 juta dan pendapatan lainnya juga naik 6% menjadi US$ 70 juta dari US$ 60 juta.

Manajemen ADRO menyatakan penurunan pendapatan terutama karena harga jual rata-rata yang turun 13%.


Penurunan harga jual rata-rata diofset dengan kenaikan 9% (yoy, year on year) pada penjualan batu bara menjadi 59,19 juta ton. ADRO mencatat peningkatan produksi 7% menjadi 58,03 juta ton, atau melebihi panduan yang ditetapkan pada kisaran 54-56 juta ton.

"Kinerja operasional yang tinggi dan permintaan yang solid bagi batu bara AE mendukung peningkatan ini," kata Presiden Direktur dan Chief Executive Officer ADRO, Garibaldi 'Boy' Thohir, dalam keterangan resmi, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (4/3/2020).

Garibaldi menegaskan perseroan berhasil mencapai panduan operasional maupun keuangan walaupun harus menghadapi tekanan (headwinds) di pasar batu bara berkat pertumbuhan volume dan pengendalian biaya yang berkelanjutan.

"Kami gembira dengan kinerja perusahaan pada tahun 2019, karena di tengah pasar yang sulit, kami berhasil mencetak kinerja finansial yang solid berkat pertumbuhan volume tahunan yang tinggi dan pengendalian biaya yang berkelanjutan," katanya.



"Suksesnya penerbitan obligasi PT Adaro Indonesia dan dimulainya operasi PLTU 2x100 MW PT Tanjung Power Indonesia menandai beberapa pencapaian kami pada tahun 2019. Kami memperkirakan pada tahun 2020 pasar akan tetap sulit dan kami akan melanjutkan fokus terhadap upaya peningkatan keunggulan operasional, pengendalian biaya dan efisiensi, serta eksekusi strategi demi kelangsungan bisnis," tegas Boy Thohir.

Di sisi lain, laba inti Adaro tetap kuat pada level US$ 635 juta, dengan belanja modal bersih selama tahun lalu tercatat sebesar US$ 489 juta, sejalan dengan panduan tahun 2019 yang ditetapkan sebesar US$ 450 juta sampai US$ 600 juta.

Adapun ADRO menghasilkan arus kas bebas sebesar USS$ 566 juta pada tahun 2019 yang menunjukkan kemampuan perseroan dalam menghasilkan arus kas lebih dari operasi perusahaan. 

[Gambas:Video CNBC]




(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading