Kapan Harga Minyak Kembali Normal? Ini Kata Eks Gubernur OPEC

Market - Daniel Formen & Anisatul Umah, CNBC Indonesia
23 April 2020 14:40
Foto: skkmigas.go.id
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak jenis Brent siang ini menguat 2,73% ke posisi US$ 23.10 per barel. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 1.85% ke posisi US$ 15,63 per barel sebagaimana dikutip dari Bloomberg.

Harga minyak yang mulai menguat apakah menjadi tanda-tanda harga akan kembali normal?

Eks Gubernur OPEC untuk Indonesia sekaligus praktisi migas Widyawan Prawira Atmaja menerangkan, demand atau permintaan untuk minyak saat ini terjadi penurunan sebesar 20%, artinya sekitar 20 juta barel per hari. Sementara supply hanya dipotong 13-14 juta barel per hari.


Kondisi ini menggambarkan jika masih ada kelebihan supply atau pasokan setiap harinya. Hal ini berdampak pada harga minyak yang akan terus tertekan.

Ia menyebut satu-satunya hal yang bisa mengembalikan harga minyak ke posisi normal adalah demand atau konsumsi pasar.



"Harga akan membaik jika sudah ada tanda-tanda demand membaik, artinya ada beberapa negara yang sudah berhasil mengatasi Covid-19. China sudah ada indikasi konsumsi minyak mulai beringsut naik. Nanti kalau Amerika re-opens harga mungkin akan membaik," paparnya, Kamis, (23/04/2020).

Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) bulan Maret terjun bebas akibat anjloknya harga minyak dunia, dampak dari pandemi corona (Covid-19) yang membuat konsumsi BBM turun.

ICP bulan Maret terjun bebas 39,5% menjadi US$ 34,23 per barel. Atau anjlok US$ 22,38 per barel dibandingkan bulan sebelumnya US$ 56,61 per barel. Penurunan besar-besaran juga dialami ICP SLC sebesar US$ 21,40 per barel dari US$ 57,18 per barel pada Februari 2020 menjadi US$ 35,78 per barel pada Maret 2020.

Terkait hal ini, Tim harga minyak Indonesia mengungkapkan penyebab utama dari anjloknya ICP karena pandemi corona (Covid-19). Penyebarannya yang semakin meluas mengakibatkan pemberlakuan lockdown di sebagian besar negara konsumen minyak mentah.

Sebelumnya, pasar juga dikagetkan oleh harga minyak WTI yang sampai minus US$ 40,32 per barel pada 21 April kemarin.

Menanggapi fenomena ini, Eks Gubernur OPEC untuk Indonesia, Maizar Rahman mengatakan itu hal biasa. Menurutnya, fluktuasi harga minyak memang sering terjadi. Adapun rendahnya permintaan pasar di tengah melimpahnya pasokan minyak merupakan penyebab harga minyak bergerak negatif.

Ia menjabarkan, saat ini permintaan pasar sedang sedikit namun negara-negara penghasil minyak tetap melakukan eksplorasi minyak. Pemberhentian kegiatan eksplorasi atau produksi minyak tidak dapat serta merta dilakukan karena dapat merusak ladang minyak.

Meski begitu Ia melihat minusnya harga minyak akan memberi efek positif bagi Indonesia. Menurutnya, hal tersebut akan menyebabkan berkurangnya devisa negara untuk impor minyak.  

Meski sudah mulai bergerak naik Maizar Rahman menyebut harga minyak masih berpotensi anjlok kembali.

Hal tersebut didasarkan lantaran belum adanya titik terang mengenai pandemi Covid-19. Maizar menjelaskan pada dasarnya harga minyak bersifat fluktuatif yang dapat sewaktu-waktu naik dan turun. Namun di tengah kondisi darurat pandemi Covid-19 ini, Ia melihat amblasnya kembali harga minyak ke level minus berpotensi lebih besar.

Serupa dengan Widyawan, Ia menjelaskan faktor fundamental yang menyebabkan amblesnya harga minyak adalah menurunnya permintaan akan minyak di tengah pandemi Covid-19. Hal ini lantaran adanya kebijakan beberapa negara yang mengurangi penggunaan transportasi dan mengurangi kinerja perusahaan manufaktur.

Tapi ia meyakini anjlok harga tak akan berlangsung lama. Dirinya meyakini akan terjadi moment rebound dalam waktu dekat, namun hal tersebut perlu didukung upaya-upaya perbaikan pasar agar harga minyak kembali stabil.

Maizar menyebut OPEC (organisasi negara-negara pengekspor minyak) sudah mengajak negara-negara penghasil minyak untuk menurunkan produksinya guna menstabilkan harga minyak dunia.

"OPEC mengajak negara-negara penghasil minyak anggota OPEC untuk menstabilkan harga untuk kepentingan bersama. Ya kalau 10 juta barel dipangkas belum cukup menstabilkan harga, ya dipangkas lagi", katanya.

[Gambas:Video CNBC]






(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading