Harga Minyak Dunia Minus, Bagaimana Nasib Harga Minyak RI?

Market - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
21 April 2020 11:54
Minyak Bumi
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar gonjang-ganjing pagi ini akibat harga minyak dunia untuk jenis WTI (West Texas Intermediate) terjun bebas hingga ke level minus US$ 37,63 per barel.

Banyak yang bertanya-tanya bagaimana dampaknya nanti ke harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price)?

Sekrertaris Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto memaparkan, untuk ICP lebih cenderung mengikuti pergerakan Brent ketimbang WTI. Saat ini, rerata harga Brent masih cukup anteng di level USS$ 27 per barel.


"ICP formulanya terkait dengan Brent," kata dia, Selasa (21/4/2020).

Dengan turunnya harga minyak dunia, menurur Djoko merupakan kesempatan untuk mengisi storage atau tangki-tangki BBM. Sampai saat ini, pemerintah masih memantau pergerakan harga minyak.



Ia meyakini penurunan ini tak akan berlangsung lama. "Kalau cuma sebentar ya gak ada masalah, nanti KKKS akan berhemat dan minta keringanan ke Pemerintah biasanya," jelasnya, soal daya tahan migas RI.

Pengamat minyak dan gas (migas) Universitas Trisakti Pri Agung menambahkan kemungkinan harga minyak rendah ini akan berlangsung sampai akhir tahun. "Kemungkinan di kisaran US$ 30 per barel atau lebih rendah."

Eks Gubernur OPEC untuk Indonesia sekaligus Praktisi Migas Widyawan Prawira Atmaja menjelaskan bahwa ICP Indonesia menggunakan patokan harga Minas yang tak jauh beda dengan Brent. "Untuk perhitungannya kan atas dasar benchmark Brent ditambah atau dikurangi alfa," jelasnya.

Kondisi WTI yang minus harganya memiliki pasar yang berbeda dengan Brent. Sementara WTI berfokus pada pasar di Amerika, dan Brent lebih luas. Saat ini harga WTI negatif karena tangki-tangki BBM di AS penuh dan minyak tak terserap.

Brent, kata dia, ada kemungkinan harganya akan merosot sehingga perlu diwaspadai dan dipantau terus. Namun, ia meyakini begitu kesepakatan OPEC+ berjalan Mei nanti, harga minyak akan kembali normal untuk periode Juni dan seterusnya. Apalagi jika beberapa negara sudah mulai pulih kembali dari covid-19.

"Konsumsi paling besar AS dan China, China kemungkinan sudah recovery kita berharap," jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]





(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading