Pertama dalam Sejarah! Harga Minyak Minus, IHSG Berduka

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
21 April 2020 09:13
Bursa Efek Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Awal perdagangan pagi ini, bursa saham Tanah Air harus bermuram durja lantaran Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpelanting ke zona merah. Pelemahan IHSG tak lepas dari sentimen negatif amblesnya harga minyak di bawah US$ 0/barel.

Selasa (21/4/2020) IHSG dibuka di level 4.575,9 stagnan di level penutupan kemarin. Pada 09.03 WIB, IHSG melemah 0,82% ke level 4.538,43. Koreksi di pasar saham juga terjadi mayoritas bursa utama kawasan Benua Kuning pagi ini.

Pada 08.45 WIB, indeks Shanghai Composite melemah 0,41%, Hang Seng terpangkas 0,34%, Topix turun 0,55%, KOSPI ambles 0,59%, Straits Times terkoreksi 0,08% dan KLCI melorot 0,64%.


Tadi malam tiga indeks utama bursa saham New York juga ditutup dengan pelemahan. Dow Jones ambles 2,2%, S&P 500 surut 1,5% dan Nasdaq Composite berkurang 0,5%. Pelemahan Wall Street dipicu oleh berbagai sentimen negatif yang membayangi pasar saham.


Sentimen negatif lebih banyak ketimbang yang positifnya. Salah satu sentimen negatif yang membebani pasar adalah harga minyak mentah kontrak berjangka pengiriman Mei yang susut sampai ke bawah level US$ 0/barel.

Pada 05.16 WIB, harga minyak mentah kontrak berjangka pengiriman Mei West Texas Intermediate (WTI) turun signifikan sampai ke level minus US$ 37,63/barel. Ya tidak salah lagi minus harganya.

Tanda minus mengindikasikan kontrak pengiriman Mei yang kadaluwarsa pada 21 April ini tak laku. Saking tak lakunya pemegang kontrak bisa memberikan cuma-cuma kepada yang berminat, bahkan sampai membayar orang agar mau membeli minyaknya.



Ini adalah kali pertama dalam sejarah harga minyak jatuh ke zona negatif. Semua ini dipicu oleh kesaktian pandemi COVID-19 yang membuat miliaran orang di dunia harus terkungkung diam di dalam rumah.

Pandemi yang kini telah menginfeksi lebih dari 2,4 juta penduduk di 185 negara dan wilayah ini sukses membuat penumpang pesawat anjlok, sektor pariwisata megap-megap dan aktivitas manufaktur terkontraksi.

Ujung-ujungnya adalah permintaan terhadap si emas hitam anjlok signifikan. Berbagai riset dan studi meramal permintaan minyak bisa anjlok 20% sementara volume pemangkasan yang disepakati OPEC+ tak sampai sebesar itu, pasar masih butuh pemangkasan produksi lanjutan untuk menopang harga minyak agar naik.

Ganasnya pandemi COVID-19 telah memporakporandakan segalanya. Mulai dari kesehatan umat manusia, pasar keuangan hingga perekonomian global. Pekan lalu Dana Moneter Internasional (IMF) meramal ekonomi global terkontraksi 3% di tahun ini.

Kepala Ekonomi IMF Gita Gopinath juga mengatakan dunia berada dalam bayang-bayang resesi besar akibat lockdown di berbagai negara. Resesi yang ditimbulkan bahkan lebih hebat dari resesi besar pada krisis keuangan 2008 silam.



TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]





(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading