Gempar Harga Minyak Minus, Ada Kabar Apa Saja dari Pasar?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
21 April 2020 08:44
Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Anjloknya harga minyak dunia menjadi katalis negatif yang menekan pasar saham pada perdagangan awal pekan ini, Senin (21/4/2020).

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, harga minyak dunia berada di bawah US$0 atau di teritori negatif. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei turun dan sempat menyentuh -US$ 40,32 per barel sebelum akhirnya berakhir diperdagangkan pada -US$ 37,63.

Alhasil, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di teritori negatif dengan pelemahan 1,27% ke level 4.575,90 poin dengan nilai transaksi Rp 5,42 triliun dan investor asing melakukan aksi jual bersih senilai Rp 572,96 miliar.


Mencermati penurunan harga minyak tersebu, mari kita cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia sebelum memulai perdagangan Selasa (21/4/2020):

1. Emiten Pengelola Kawasan SCBD Resmi Delisting, Sayonara!
Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan restu kepada perusahaan pengembang dan pengelola kawasan niaga terpadu Sudirman Central Business District (SCBD) di Sudirman Jakarta, PT Danayasa Arthatama Tbk (SCBD) menghapuskan pencatatan saham perseroan di papan bursa, secara mandiri atau voluntary delisting.

Delisting tersebut berlaku mulai Senin, 20 April 2020. Dalam surat yang ditandatangani Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 BEI, Vera Florida dan Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan, perusahaan yang terafiliasi dengan pengusaha Tommy Winata ini telah memenuhi persyaratan prosedur delisting.

"Bursa dapat menyetujui penghapusan pencatatan efek Danayasa Arthatama dengan kode perdagangan SCBD dari BEI efektif pada hari Senin tanggal 20 April 2020," tulis BEI, dalam pengumuman yang disampaikan Jumat, (17/4/2020).



2.Emiten Pariwisata Ngos-ngosan Dihajar Corona, Ini Strateginya
Perusahaan di sektor pariwisata sudah terang-terangan menyatakan telah melakukan sejumlah langkah efisiensi karena perusahaan tak dapat melakukan operasional seperti biasanya sejak pandemi Covid-19 melanda Tanah Air.

VP Brand and Communications Panorama Sentrawisata AB Sadewa mengatakan sejumlah kebijakan pemerintah seperti penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan penutupan wilayah membuat perusahaan pariwisata kurang diuntungkan. Hal ini mengganggu operasional perusahaan terganggu secara umum.

"Di Panorama Group kan ada beberapa pilar usaha, jadi untuk kondisi-kondisi pengurangan gaji, unpaid leave, ataupun pengurangan karyawan kontrak dilakukan oleh masing-masing unit usaha yang langsung terdampak, namun belum ada PHK," kata dia kepada CNBC Indonesia, Senin (20/4/2020).

Selain itu, perusahaan juga terpaksa merevisi turun seluruh target kinerja untuk tahun ini.

3. S&P Pangkas Outlook RI, Apa Dampaknya ke Pasar Obligasi?
Lembaga pemeringkat global, S&P Global Ratings merevisi turun prospek (outlook) utang jangka panjang Indonesia menjadi Negatif dari Stabil pada Jumat pekan lalu (17/4/2020). Lembaga yang dikenal konservatif ini juga menegaskan kembali peringkat utang jangka panjang RI yakni 'BBB' dan jangka pendek 'A-2'.

Proyeksi ini karena mempertimbangkan meningkatnya risiko eksternal dan meningkatnya beban utang pemerintah karena kebijakan kontrasiklus dalam menangani pandemi Covid-19.

Head of Economy Research PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana menyatakan, perubahan proyeksi ini akan menyebabkan tekanan dalam jangka pendek di pasar surat utang negara (SUN). Akan tetapi, guncangan ini tidak akan mengubah yield atau imbal hasil secara signifikan.

"Hal ini dikarenakan respons pasar keuangan yang sangat cepat dan saya pikir para investor sudah priced in [antisipasi] pada saat pemerintah mengumumkan kemungkinan melebarnya defisit APBN," kata Fikri kepada CNBC Indonesia, Senin (20/4/2020).

4. Gaji Karyawan Dipangkas, Matahari Tegaskan Tak Ada PHK!
Pandemi virus corona (Covid-19) memberikan dampak negatif terhadap merosotnya pendapatan di hampir di seluruh lini bisnis, tak terkecuali bisnis peritel fashion di Tanah Air.

Emiten yang terdampak Covid-19 pun menerapkan strategi bertahan, salah satunya dengan memangkas remunerasi pegawai lantaran arus kas perusahaan mengalami tekanan yang disebabkan dengan tren penurunan penjualan yang cukup tajam.

Hal itu juga dilakukan emiten ritel Grup Lippo, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) melakukan beberapa langkah untuk bertahan, di antaranya menghentikan sementara seluruh gerai secara nasional sebagai respons kebijakan pembatasan sosial berskala besar untuk menghindari penularan pandemi virus corona.



5. Akankah Gojek Tambah Saham di Blue Bird?
Manajemen perusahaan penyedia layanan transportasi PT Blue Bird Tbk (BIRD) menyebut pihaknya tetap membuka diri untuk masuknya investor baru atau pemegang saham eksisting untuk menambah kepemilikannya di perusahaan.

Direktur Blue Bird Adrianto Djokosoetono mengakui saat ini perusahaan tidak dalam pembicaraan dengan pihak mana pun mengenai kepemilikan saham, termasuk dengan pemegang saham barunya, Gojek untuk memperbesar porsi saham."

"Saya belum tahu kalau Gojek akan menambah kepemilikan di kami. Tetapi kami tetap buka kesempatan dan kami belum dengar dan tahu Gojek tapi kami terbuka bagi investor untuk menambah kepemilikan di kami," kata Adrianto dalam dialog dengan CNBC Indonesia TV, Senin (20/4/2020).

6. Ikut Perangi Covid-19, Asosiasi Emiten & SRO Galang Donasi
Asosiasi Emiten Indonesia beserta organisasi regulator mandiri atau SRO (self regulatory organization) pasar modal menginisiasi penggalangan dana untuk menanggulangi pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia.

AEI menyebutkan, situasi pandemi di Tanah Air kian menunjukkan keprihatinan. Hal ini terefleksi dari masih tingginya jumlah kematian akibat Covid-19 maupun jumlah pasien baru yang dinyatakan positif terpapar.

Merespons hal tersebut, AEI dan SRO pasar modal menginisiasi donasi. Dari internal organisasi, AEI menyerahkan donasi sebesar Rp 250 juta yang diserahkan oleh Ketua Umum AEI Franciscus Welirang kepada Direktur Utama PBursa Efek Indonesia Djajadi sebagai perwakilan SRO penggalang dana dari masyarakat Pasar Modal Indonesia pada Senin (20/2/2020) di Gedung Bursa Efek Indonesia.

7. Saham Jeblok 12%, Emtek Siap Buyback Saham Rp 1 T
Emiten media induk dari SCTV dan Indosiar, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp 1 triliun. Hal ini mempertimbangkan penurunan harga saham yang turun signifikan sejak awal tahun ini sebesar 12,11% ke posisi Rp 4.900/saham.

Manajemen Emtek menyatakan, buyback saham ini juga sejalan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cukup signifikan sebesar 18,46% sejak awal tahun akibat dampak dari pandemi Covid-19 yang menekan pasar keuangan.

Selain itu, keputusan ini juga mempertimbangkan dirilisnya Surat Edaran dari OJK Nomor 3/SEOJK.04/2020 yang membolehkan emiten melaksanakan buyback tanpa melalui proses Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Adapun, biaya pembelian kembali saham tersebut bersumber dari kas internal. Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari jumlah modal disetor.

[Gambas:Video CNBC]



8. Terungkap! Jual Bank Maspion, Ini Rencana Besar Alim Markus
PT Bank Maspion Tbk (BMAS) baru saja mengumumkan bahwa perusahaan telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (conditional sales and purchase agreement/CSPA) atas saham perusahaan. CSPA ini ditandatangani dengan perusahaan asal Thailand Kasikornbank Public Company Limited.

Presiden Direktur Maspion Group Alim Markus mengatakan jual beli saham ini dilakukan untuk pengembangan perusahaan, baik untuk memperkuat permodalan dan pengembangan lainnya.

"Tentunya [jual beli saham ini] baik berguna bagi Bank Maspion dalam permodalan dan IT (Informasi & Teknologi)," kata Alim kepada CNBC Indonesia akhir pekan lalu.

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading