Analisis Teknikal

Bahaya! Sentimen Minyak Minus Bisa Bikin IHSG Drop Hari Ini

Market - Haryanto, CNBC Indonesia
21 April 2020 08:08
Bursa Efek Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari Selasa ini (21/4/2020) berpotensi melemah mengikuti bursa saham Amerika Serikat (AS) yang anjlok di tengah kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari pandemi virus corona yang terus berlangsung.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Senin (20/4/2020) bursa saham Tanah Air IHSG mengalami koreksi 58,92 poin atau 1,27% ke level 4.575,91 dengan rentang harga tertinggi 4.669,54 dan terendah 4.573,77 karena dampak pandemi virus corona yang terus menggerogoti sentimen pasar.

Berdasarkan catatan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi pada perdagangan Senin kemarin sebesar Rp 5,41 triliun, dengan investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) Rp 572,96 miliar di pasar reguler dan negosiasi.


 



Saham-saham yang mendorong penurunan di antaranya PT Putra Rajawali Kencana Tbk (PURA) (-6,06%), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) (-6,05%), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) (-5,66%), Sedangkan PT HK Metals Utama Tbk (HKMU) (-5,43%) dan PT Modernland Realty Ltd Tbk (MDLN) (-5,43%).

Sementara bursa saham Wall Street yang merupakan acuan atau barometer dari bursa saham global pada penutupan perdagangan Senin kemarin turun karena investor melakukan aksi ambil untung (taking profit) dari lonjakan perdagangan sebelumnya.

Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 592,05 poin atau 2,4% menjadi 23.650,44, Nasdaq merosot 89,41 poin atau 1% menjadi 8.560,73 dan S&P 500 turun 51,40 poin atau 1,8% menjadi 2.823,16.

Selain itu, penurunan bersejarah harga minyak mentah juga membebani pasar, dengan kontrak berjangka minyak mentah berubah negatif untuk pertama kalinya. Minyak mentah untuk pengiriman bulan Mei anjlok US$ 55,90 ke minus US$ 37,63 per barel, sementara minyak mentah untuk pengiriman bulan Juni jatuh US$ 4,60 menjadi US$ 20,43 per barel.

Pada catatan pukul 07:30 WIB Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) kontrak berjangka (futures) naik 0,27% menjadi 23.550, sedangkan indeks S&P 500 naik 0,37 ke 2.816 dan Nasdaq Composite 100 menguat 0,34% pada 8.721.

Pada perdagangan pagi ini Selasa (20/4/2020) penurunan di bursa saham Wall Street dan anjloknya harga minyak hingga minus kemungkinan menjadi sentimen negatif IHSG ke zona merah.

Penurunan harga minyak ini merupakan yang terburuk dalam 1 hari sejak 1982 dan merupakan level terendahnya sejak tahun 1998. Penurunan permintaan minyak secara global telah membuat persediaan minyak kian menumpuk, sehingga perusahaan perusahaan energi di Amerika telah kehabisan ruang untuk menyimpannya.


Menurut Riser Pilarmas Sekuritas, ketika tidak ada tempat untuk menyimpan minyak, maka tidak ada yang menginginkan kontrak minyak yang akan jatuh tempo. Ketika penurunan harga minyak menjadi menakutkan, maka harapannya hanyalah wabah virus corona diharapkan dapat cepat berlalu hingga mendorong peningkatan permintaan dan mengangkat harga minyak.

Memang benar, beberapa waktu lalu sempat kita bahas mengenai kesepakatan pengurangan produksi dari OPEC+. Namun seperti diketahui sejak awal bahwa pengurangan tingkat produksi tersebut tidak menjamin harga minyak dapat stabil. Karena pengurangan tingkat produksi tersebut masih belum mampu mengimbangi antara pasokan dengan permintaan.

 

Foto: Revinitif

 

Analisis Teknikal

Pergerakan IHSG dengan menggunakan indikator Moving Average periode 20 (MA-20) yang artinya pergerakan berdasarkan 20 bar atau batang sebelumnya secara nilai rata-rata harga penutupan per bar masih berada di bawah area garis MA-20, artinya masih ada tekanan.

Saat ini mencoba bergerak ke level 23,6% Fibonacci Retracement di area 4.486,80, sedangkan untuk merubah bias menjadi penguatan (bullish) perlu melewati level 38,2% Fibonacci di 4.842,57.

Fibonacci Retracement adalah indikator yang digunakan sebagai alat ukur untuk mendapatkan area-area yang bisa dijadikan sebagai acuan kapan entry atau masuk dan kapan keluar (exit).

Sementara indikator Stochastic melalui metode penentuan area titik jenuh jual (oversold) di 20% dan area titik jenuh beli (overbought) di 80%, dengan garis MA yang sudah saling berpotongan di atas area 80% jenuh beli menandakan kecenderungan untuk turun lebih lanjut.

Secara keseluruhan, dari fundamental merespon penurunan bursa saham AS Wall Street dan anjloknya harga minyak, dikombinasikan dengan teknikal yang berada di area jenuh beli. Maka pergerakan IHSG selanjutnya diprediksi untuk turun mengikuti bursa saham Wall Street.

Perlu melewati (break) salah satu level dari indikator Fibonacci Retracement, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

 

[Gambas:Video CNBC]




TIM RISET CNBC INDONESIA


(har/har)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading