Blue Bird Pangkas Gaji Direksi & Komisaris, Tak Ada PHK!

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
20 April 2020 12:52
Mobil listrik Blue Bird (CNBC Indonesia/Syahrizal Sidik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan penyedia layanan transportasi PT Blue Bird Tbk (BIRD) telah melakukan pemotongan gaji untuk level direksi dan komisaris perusahaan untuk menjaga kondisi keuangan perusahaan di tengah pandemi Covid-19. Selain itu perusahaan memastikan untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawannya.

Direktur Blue Bird Adrianto Djokosoetono mengatakan saat ini perusahaan melakukan upaya untuk mengefisiensikan biaya yang dikeluarkan perusahaan mengingat pendapatan akan tergerus karena akibat pandemi ini.

"Kita dalam hal ini efisiensi cost dengan pangkas gaji direksi, sudah kami pangkas. Komisaris juga, untuk penghematan, lalu itu bertahap sesuai dengan kemampuan kami di area tersebut," kata Adrianto dalam dialog dengan CNBC Indonesia TV, Senin (20/4/2020).

Perusahaan juga melakukan pembatasan jumlah karyawan yang bekerja di kantor dan melakukan penyesuaian jam kerjanya.



"Ada aktivitas berkurang tapi kami tahan untuk restrukturisasi jumlah SDM [sumber daya manusia] tersebut," imbuh dia.

Dia juga menyebutkan kinerja perusahaan sepanjang kuartal I-2020 turun cukup signifikan secara year on year (YoY). Penurunan kinerja ini terutama disebabkan oleh kinerja divisi taksi penumpang yang terdampak karena penyebaran Covid-19 sejak awal tahun ini. Divisi taksi terdampak paling besar mulai dari kawasan wisata di Bali dan Lombok yang mengalami penurunan di Januari dan Februari.

Perlambatan terus terjadi setelah banyak kota besar, terutama Jakarta, juga terdampak Covid-19 di Maret 2020.

"Kami tentunya masih menunggu laporan yang akan disampaikan ke OJK [Otoritas Jasa Keuangan] tapi pasti ada di bawah performa kuartal pertama tahun lalu karena impact Covid-19 ini yang dimulai di pertengahan Februari atau awal Maret, cukup drastis," kata Adrianto.

Sebagai perbandingan, tahun lalu, BIRD mencatatkan laba bersih senilai Rp 314,56 miliar, atau turun 31,21% dari laba bersih perusahaan pada akhir 2018 yang senilai Rp 457,30 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis perusahaan, turunnya laba bersih ini salah satunya disebabkan karena penurunan pendapatan sebesar 4,05% secara year on year (YoY), dari senilai Rp 4,21 triliun per 31 Desember 2018 menjadi sebesar Rp 4,04 triliun di akhir Desember 2019.




[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading