Gegara Pandemi, Taksi Blue Bird Derita Rugi Q3 Rp 156 M

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
27 October 2020 15:50
foto: bluebirdgroup.com

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten jasa transportasi PT Blue Bird Tbk (BIRD) mencatatkan rugi bersih pada 9 bulan tahun ini atau per September 2020 sebesar Rp 156,01 miliar, dari periode yang sama tahun lalu yang masih mencetak laba bersih Rp 229,33 miliar.

Data laporan keuangan per kuartal III-2020 menunjukkan, rugi bersih ini dicatatkan seiring dengan pendapatan perusahaan yang turun 47,63% menjadi Rp 1,55 triliun dari sebelumnya Rp 2,96 triliun.

Adapun beban langsung juga turun menjadi Rp 1,29 triliun dari sebelumnya Rp 2,15 triliun.


Perseroan mencatatkan beban bunga mencapai Rp 77,39 miliar, naik dari sebelumnya Rp 56,48 miliar, dan adanya kerugian dari penjualan aset tidak lancar yang dikuasai untuk dijual sebesar Rp 5,88 miliar dari sebelumnya yang untung Rp 11,29 miliar.

Data lapkeu juga menunjukkan, pendapatan terbesar disumbang pendapatan kendaraan taksi Rp 1,17 triliun, turun dari periode 9 bulan tahun lalu Rp dari Rp 2,37 triliun, sementara lainnya yakni pendapatan dari sewa kendaraan juga turun menjadi Rp 400,46 miliar dari sebelumnya Rp 632,16 miliar.

Kuartal III

Dalam pernyataan resminya, manajemen BIRD menyatakan khusus untuk pendapatan kuartal III-2020 (Juli-September 2020), perseroan berhasil membukukan kenaikan pendapatan yang signifikan sebesar 51% dibandingkan kuartal kedua tahun 2020.

Kenaikan pendapatan perseroan diiringi dengan cost management yang lebih baik terbukti dengan gross profit margin di kuartal 3 sebesar 12,1% dibandingkan kuartal 2 sebesar -0,5%.

EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) perseroan di kuartal 3 juga naik tajam dari sebelumnya Rp 7,5 miliar di kuartal 2 tahun 2020 menjadi Rp 69,1 miliar di kuartal 3 tahun 2020.

"Performa perseroan di kuartal 3 ini merupakan pembuktian bahwa Perseroan berada dalam trajektori recovery yang solid, meskipun di September Jakarta sempat kembali memberlakukan PSBB ketat," kata Direktur Utama Blue Bird, Noni Purnomo, dalam siaran persnya, Selasa (27/10).

"Recovery yang terjadi di kuartal 3 tahun ini membuktikan bahwa layanan Blue Bird masih dibutuhkan dan sangat relevan dengan kebutuhan akan transportasi yang aman, nyaman, dan higienis di masa pandemi ini. Salah satu kunci keberhasilan recovery Perseroan adalah kemampuan Blue Bird untuk memberikan layanan yang mempraktekkan protokol kesehatan yang ketat."

Selain itu, perseroan juga menunjukkan langkah efisiensi pengeluaran yang terjadi di seluruh lini perseroan, di mana total opex (operating expenditure) pada kuartal 3/2020 berada di angka Rp 118 miliar, merupakan angka terendah sejak kuartal 1/2019.

"Dengan kinerja yang berhasil kami capai pada kuartal 3/2020 ini, perseroan telah berhasil melewati situasi terburuk dan kami lebih optimis dalam menatap proyeksi di masa yang akan datang," tegas Noni,

"Peningkatan pendapatan yang berhasil kami raih pada masa pandemi dan PSBB menunjukkan kepercayaan yang tinggi dari para pelanggan terhadap layanan Blue Bird Kami tentu bersyukur dengan peningkatan yang berhasil kami raih, namun demikian hal ini tidak lalu menjadikan kami berpuas diri."

Dia menjelaskan, kinerja perseroan sangat terdampak akibat pandemi, namun sejalan dengan berbagai langkah pemulihan dan terjadinya mobilitas orang maupun barang, perseroan terus berkomitmen untuk memberikan layanan transportasi yang aman, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan para penumpang dan pelanggan Bluebird Group.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading